Malang (beritajatim.com) – Dr. Rosalina Ariesta Laeliocattleya, S.Si., M.Si., pakar dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB), berhasil mengubah rambut jagung yang selama ini dianggap sampah menjadi bahan aktif utama sunscreen premium untuk anak. Melalui brand personal care BOUMI, inovasi ini hadir untuk menjawab keresahan orang tua akan produk perlindungan kulit yang aman namun efektif bagi anak usia 4-14 tahun.
Produk ini menjadi tonggak baru dalam industri kosmetik berbasis riset di lingkungan kampus. Inovasi ini bermula dari keprihatinan Dr. Rosalina—atau yang akrab disapa Ocha—terhadap besarnya produksi jagung di Indonesia yang diikuti dengan tingginya volume limbah yang tidak terpakai.
Selama ini, rambut jagung (stigma silk) hanya menjadi limbah yang dibakar atau dibuang oleh para petani. Latar belakang pemanfaatan tanaman ini didasari dari pemanfaatan limbah pertanian.
“Kita tahu bahwa rambut jagung ini merupakan salah satu bagian dari tanaman jagung yang produksinya di Indonesia cukup besar, sehingga tentunya limbahnya juga cukup tinggi,” ujar Dr. Ocha saat ditemui di sela jumpa pers perilisan produk BOUMI pada Jumat (17/4/2026).

Dari kajian yang dilakukan, tim peneliti menemukan bahwa rambut jagung memiliki sifat protektif atau kemampuan menyerap cahaya yang sangat baik. Kandungan ferulic acid dan flavonoid di dalamnya memiliki kapasitas absorpsi sinar UV yang signifikan, sehingga sangat potensial dijadikan bahan aktif tabir surya.
Proses pengolahan ini mengedepankan prinsip circular innovation. Limbah yang semula tidak bernilai guna, kini ditingkatkan nilainya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Dr. Ocha menjelaskan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama strategis untuk memastikan ketersediaan bahan baku dan kualitas produksi.
“Untuk saat ini kami bekerja sama dengan berbagai petani yang ada di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Namun, tidak menutup kemungkinan kami akan berkolaborasi dengan industri besar yang memang memanfaatkan tanaman jagung sebagai bahan baku utama, sehingga limbahnya bisa kita kolaborasikan,” lanjutnya.
Untuk skala produksi massal, UB menggandeng PT Cedefindo (bagian dari Martha Tilaar Group). Kerja sama ini memastikan formulasi sunscreen BOUMI memenuhi standar industri dan aman dikonsumsi publik. Produk tersebut bahkan telah melewati uji SPF in vitro dan in vivo, dengan hasil konsisten pada standar SPF 50+ yang sangat sesuai untuk iklim tropis Indonesia.
BOUMI hadir bukan sekadar produk baru, melainkan pengisi celah yang selama ini kosong. Masalah limbah pertanian di Indonesia berkat produk ini pun menemukan solusi inovatif lewat akademisi.
Pasar seringkali hanya menyediakan produk untuk bayi atau langsung ke dewasa, sementara anak usia sekolah yang aktif membutuhkan formulasi khusus yang kuat namun tetap alami.
Meskipun saat ini rambut jagung menjadi bintang utama dalam produk sunscreen, BOUMI juga meluncurkan rangkaian produk lain yang berbasis minyak atsiri Nusantara. Ocha menegaskan bahwa pengembangan riset tidak berhenti di sini.
“Rambut jagung ini kami ambil ekstraknya untuk sunscreen. Ke depan, kami sedang meneliti pemanfaatan rambut jagung yang sudah dikeringkan untuk dikembangkan sebagai teh rambut jagung. Jadi bukan hanya dalam bentuk ekstrak saja,” tambah pakar teknologi hasil pertanian tersebut.
Melalui BOUMI, dosen FTP UB itu ingin mengirimkan pesan kunci kepada masyarakat dan pelaku industri bahwa inovasi sejati seringkali berada di sekitar kita, bahkan pada hal-hal yang selama ini dianggap remeh.
“Pesan kuncinya adalah apa yang selama ini kita buang ternyata menyimpan perlindungan. Itulah esensi sesungguhnya dari inovasi berbasis alam,” pungkasnya.
Saat ini, produk BOUMI telah mulai diperkenalkan ke publik, salah satunya melalui kemitraan dengan sektor pariwisata seperti Batu Love Garden (Jatim Park Group) sebagai bagian dari kolaborasi Penta Helix yang melibatkan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media. (dan/aje)






