Surabaya (beritajatim.com) – Dokter spesialis paru Ignatius Hanny Handoko Tanuwijaya mengingatkan gangguan tidur seperti sleep apnea dapat berdampak serius bagi kesehatan. Kondisi ini kerap tidak disadari, padahal risikonya bisa berujung pada penyakit berat jika dibiarkan dalam jangka panjang.
“Jika sleep apnea tidak diobati selama 10 hingga 15 tahun, sekitar 75 persen kasus berpotensi berujung pada stroke. Sementara dari sisi jantung, risikonya juga meningkat signifikan, termasuk penyakit jantung koroner,” ujar Hanny peluncuran National Dream & Sleep Center di Nasional Hospital Surabaya, Rabu (15/4/2026).
Menurut Hanny, gangguan tidur berhubungan langsung dengan suplai oksigen ke organ vital. Penurunan oksigen saat tidur dapat mengganggu aliran darah ke otak dan jantung, sehingga meningkatkan potensi komplikasi.
“Kondisi ini sering tidak disadari, padahal gejalanya bisa dikenali seperti mendengkur keras, henti napas saat tidur, hingga rasa lelah berlebihan di siang hari,” ujarnya.
Selain berdampak pada organ vital, gangguan tidur juga memengaruhi metabolisme tubuh. Penderita cenderung mengalami peningkatan nafsu makan yang dapat berujung pada obesitas serta penurunan produktivitas.
Direktur Nasional Hospital, Hendera Henderi, menjelaskan penanganan gangguan tidur memerlukan pendekatan yang tepat dan menyeluruh. Diagnosis yang akurat menjadi kunci agar terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi pasien.
“Kami menghadirkan layanan yang melibatkan berbagai disiplin, termasuk dokter jantung, untuk memastikan penyebab utama gangguan tidur pasien dapat teridentifikasi dengan akurat, sehingga terapi yang diberikan benar-benar tepat sasaran,” jelasnya.
Dia menambahkan kualitas tidur menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan. Durasi tidur saja tidak cukup tanpa kualitas yang mampu memberikan pemulihan optimal bagi tubuh.
“Bukan sekadar berapa jam seseorang tidur, tetapi bagaimana kualitas tidur tersebut mampu memberikan pemulihan optimal bagi tubuh,” tambahnya.
Sementara itu, dokter spesialis saraf Neimy Novitasari menyampaikan setiap individu memiliki kebutuhan tidur yang berbeda. Penanganan gangguan tidur perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
“Kurang tidur dalam satu malam tidak bisa langsung diganti. Tubuh membutuhkan waktu hingga dua hingga tiga hari untuk memulihkan kondisi tersebut. Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dalam penanganan gangguan tidur,” terangnya.
Neimy juga menjelaskan teknologi sederhana seperti perangkat pemantau tidur dapat membantu mengenali pola tidur. Hal ini dapat menjadi langkah awal untuk mendeteksi gangguan sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Para tenaga medis mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tidur sebagai bagian dari kesehatan jangka panjang. Tidur yang cukup dan berkualitas berperan besar dalam menjaga fungsi tubuh serta meningkatkan kualitas hidup.[asg/aje]






