Jember (beritajatim.com) – Enam mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Program Studi Fisika Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengkaji penggunaan radiasi untuk terapi kanker.
Mereka adalah Muhammad Husein Shodiq, Abdulloh Hasan Shodiq, Damar Nusantoro, Rahmatika Ramadhani, Muhammad Al Rizyad, dan Ag Galang Renda Arjuna.
Para mahasiswa ini meneliti kemungkinan produksi Actinium-225, salah satu radioisotop yang mampu memancarkan radiasi alfa berenergi tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk menghancurkan sel kanker.
Actinium-225 memiliki peran penting dalam metode Targeted Alpha Therapy (TAT), yaitu terapi kanker yang mampu menarget sel kanker secara presisi tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
Mereka menambahkan thorium nitrida (ThN) ke dalam bahan bakar yang berpotensi untuk berubah menjadi actinium melalui serangkaian reaksi berantai, sehingga peluang terbentuknya actinium menjadi lebih besar.
“Jika dianalogikan, thorium ini seperti ‘awal’ atau sumber dari actinium dalam rantai reaksinya. Jadi dengan menambahkannya, peluang produksinya bisa meningkat,” kata Husein, sebagaimana dilansir Humas Unej, Selasa (14/4/2026).
Dari beragam jenis reaktor nuklir yang telah dikembangkan, Husein dan tim berfokus pada Gas Cooled Fast Reactor (GFR), yaitu jenis reaktor yang menggunakan gas helium sebagai sistem pendingin. Dalam pengoperasiannya, kinerja reaktor tidak terlepas dari pemilihan bahan bakar yang digunakan.
Pada penelitian ini, Husein menggunakan bahan bakar uranium nitrida dan plutonium nitrida (UN-PuN). Meskipun bahan bakar tersebut dapat menghasilkan Actinium-225, jumlah yang dihasilkan masih relatif sangat kecil, bahkan setelah reaktor beroperasi dalam waktu yang lama.
Pengembangan reaktor yang dilakukan mereka juga mencakup perhitungan distribusi panas dan komposisi bahan bakar yang aman dan optimal. “Selain itu, kami juga melihat kemungkinan produk lain, karena Actinium hanya salah satu dari hasil reaksi di dalam reaktor,” ujar Husein.
Melalui kajian ini, Husein dan tim ingin menunjukkan bahwa reaktor nuklir tidak hanya berfungsi sebagai penghasil energi, namun juga dapat berkontribusi dalam bidang kesehatan.
Kajian mereka ini berhasil meraih Gold Medal dalam ajang Asean Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) kategori Physics, Energy, and Engineering pada 29 Januari 2026.
“Kami percaya nuklir punya banyak manfaat, tidak hanya di energi tapi juga di bidang medis. Meskipun saat ini belum sepenuhnya siap diterapkan secara luas di Indonesia, setidaknya ini menjadi langkah awal. Ibaratnya, ini ikhtiar kami supaya ketika suatu saat riset nuklir dibutuhkan, kita sudah siap,” katanya. [wir/kun]






