Jember (beritajatim.com) – Anak-anak penderita autisme di Indonesia menghadapi sekian banyak kendala untuk menjaga kualitas hidup mereka agar tetap baik.
Kendala pertama adalah penerimaan dari keluarga dan stigma dari masyarakat. Endang Guritno, psikolog anak autis dari Yayasan Gapai Rizki Mulia (Garizmu) Jember, mengatakan, kelahiran anak autis tak jarang memicu perceraian. “Suami menyalahkan istri, kemudian bercerai,” katanya, Sabtu (11/4/2026).
Ada keluarga yang menganggap autisme tak ubahnya aib yang harus ditutupi, sehingga anak autis tidak mendapat perawatan yang layak. Sebagian keluarga memilih untuk mengundang terapis ke rumah, karena tak ingin diketahui publik.
Opsi mendatangkan terapis ke rumah tak selamanya tepat. Penanganan anak autis di rumah memiliki keterbatasan fasilitas. Jadi Endang menyarankan agar anak autis dibawa ke tempat terapi.
Namun jumlah terapis tersertifikasi di Indonesia ternyata tidak cukup banyak, jika dibandingkan rata-rata populasi anak autis yang diperkirakan enam persen di Indonesia.
“Terapis wicara, terapis okupasi masih sedikit. Jumlah terapis wicara sekitar tiga ribu sampai empat ribu orang. Jumlah terapis okupasi sekitar tiga ribu orang,” kata Tri Budi Santoso, konsultan terapis okupasi bidang pediatri dan dosen Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta.
Sedikitnya jumlah terapis ini dikarenakan tidak cukup banyak perguruan tinggi yang menyediakan jurusan atau program studi di bidang tersebut. Tri mengatakan, hanya ada lima sampai enam perguruan tinggi, mayoritas swasta, yang meluluskan terapis untuk autisme.
Dengan jumlah yang sedikit, distribusi terapi untuk autis di Indonesia tidak merata. Tri mencontohkan mayoritas dari 400 orang lulusan kampus Poltekkes setiap tahuin lebih banyak bekerja di Jawa. Mereka enggan bekerja di luar Jawa karena faktor budata, gaya hidup, dan tak mau jauh dari keluarga.
Tri mengusulkan agar pemerintah melakukan upaya sistematis untuk menarik minat para terapis muda agar mau bekerja di luar Jawa dengan gaji layak. “Misalka membuat mereka itu jadi PNS di rumah sakit. Kalau ada ikatan dinas, baru tenaga-tenaga kesehatan langka ini terdistribusi merata,” katanya.
Tanpa distribusi terapis profesional yang merata, Tri khawatir nasib anak-anak autis akan terbengkalai. “Anak-anak autis di kota besar, karena sudah banyak klinik dan rumah sakit dengan terapis, perkembangannya jauh lebih bagus daripada anak-anak autis di daerah,” katanya.
Ketiadaan terapis profesional membuat masyarakat akhirnya memutuskan untuk menangani anak autis secara mandiri dan apa adanya. “Ada yang guru atau ada yang sarjana di bidang apa adanya yang mereka bisa,” kata Tri.
Mereka belajar secara daring dari media sosial, seperti YouTube dan mengikuti workshop, pelatihan, dan webinar, sehingga bisa menangani anak-anak autis di rumah. “Banyak klien saya di luar kota yang mengerjakan secara konsisten tanpa bantuan terapis,” kata Tri.
Biaya Mahal
Tak hanya terbentur masalah tenaga terapis yang minim, biaya pengobatan anak autis juga tidak murah. Herwindro Wicaksono, orang tua seorang anak autis, pernah mengeluarkan biaya obat hingga Rp 30 juta per bulan.
Selain langka, obat-obat untuk autisme tidak ditanggung oleh perusahaan asuransi swasta maupun Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Herwindro dan istrinya Rizma Endah Susanti harus rutin mendatangi dokter di kota lain seperti Surabaya dan Jogjakarta hanya untuk menebus resep dan membeli obat.
Mereka juga mengeluarkan banyak biaya untuk membawa sang anak berobat ke sejumlah tenaga kesehatan alternatif. “Ini ujian bagi orang tua,” kata Herwindro yang sudah merawat sang anak selama 16 tahun.
Peran orang tua memang sangat menentukan bagi penanganan anak autis. “Memang yang terbaik adalah orang tua bisa menangani sendiri, karena orang tua yang mengerti kebutuhan anak,” kata Tri.
“Jadi ketika orang tua bisa diberikan pendidikan atau training dengan cara yang benar walaupun lewat online, mendapatkan informasi yang benar, dan mereka bisa konsisten melakukan latihan terapi di rumah dengan benar, perkembangan anak juga meningkat,” kata Tri.
Tidak Menyerah
Menyadari hal itu, Herwindro dan Rizma mendirikan Yayasan Garizmu pada 2021 di Kabupaten Jember yang khusus menangani anak-anak autis. Mereka ingin membantu para orang tua yang senasib untuk saling menguatkan.
Penguatan orang tua diperlukan, karena kondisi anak autis tidak sama. Sebagian bisa mandiri dan menjalani kehidupan sebagaimana orang lain. Sebagian lagi masih harus diawasi dan dibantu secara fisik dan verbal. Namun ada pula yang sepenuhnya tergantung dengan orang lain. “Yang berat ini perlu perawatan seumur hidup,” kata Tri.
Endang Guritno berpesan kepada seluruh orang tua yang memiliki anak autis untuk tidak menyerah. “Kita harus terus berjuang. Karena usia anak ini terus bertambah, kita tidak bisa terus-menerus meratapi diri sendiri, Kita harus berjuang demi masa depan anak,” katanya.
Namun selain keluarga, edukasi untuk masyarakat agar bisa menerima anak autis sangat diperlukan. “Ketika stigma masyarakat masih nempel, akan jadi beban tersendiri,” kata Tri.
Menurut Tri, masyarakat sudah harus mulai belajar dan sadar untuk menerima anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk autis.
Zaman digital dan keterbukaan informasi sedikit banyak memperbaiki cara pandang masyarakat terhadap anak autis. “Masyarakat mulai teredukasi karena banyak profesional, dokter, terapis dan psikolog yang memberikan edukasi secara online,” kata Tri.
Tri berharap masyarakat memberikan kesempatan kepada penderita autis ringan untuk bekerja di sektor formal dan informal setelah dewasa. Penderita autis ini bisa dilatih keterampilan tertentu. “Kalau mereka diberikan pemahaman pelayanan yang bagus, mereka bisa bekerja seperti orang lain,” kata Tri.
Sementara untuk autis berat, perlu diberikan pelatihan agar bisa mandiri seperti cara berpakaian, mandi, makan, dan membersihkan diri sendiri. Mereka juga perlu didampingi dan mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya, karena tidak memahami bahaya.
“Autis itu long term disability. Jadi perlu pengawasan seumur hidup. Yang level satu pun juga perlu monitoring. Kalau mereka enggak ada monitor, mereka juga bisa decline, turun pada level yang sangat signifikan,” kata Tri.
Ada sejumlah faktor penurunan. “Ketika mereka jarang olahraga, mereka stres. Begitu stres, mereka bisa depresi dan bisa goyah. Akhirnya ada secondary problem. Jadi mestinya autis, akhirnya plus depresi, autis plus lainnya,” kata Tri.
Menurut Tri, autis tidak hanya terkait dengan sistem saraf, tapi juga sistem kebugaran dan kekebalan tubuh. Penderita autis juga harus sering berinteraksi dengan orang lain. “Mereka harus mendapat support, family support, dari teman sekantornya, dari teman kampusnya,” katanya.
Sementara itu, Tri berharap pemerintah hadir dengan menambah jumlah lembaga pendidikan yang meluluskan tenaga terapis dan tenaga kesehatan khusus yang menangani penderita autis.
“Pendidikan guru juga harus mendapatkan training yang ketat intensif pada sekolah. Kalau mereka mengklaim sekolah luar biasa (SLB) harus sesuai dengan jenis disabilitasnya, gurunya harus mendapatkan training,” kata Tri.
Pencanangan sekolah inklusi oleh pemerintah juga harus diikuti dengan pendidikan untuk para guru untuk bisa menangani berbagai jenis siswa berkebutuhan khusus, termasuk autisme.
“Gurunya itu harus di-training cara meng-handle, mengajarkan anak kebutuhan khusus seperti apa. Itu ada teknik khusus. Sementara ini guru-guru belum mendapatkan training khusus untuk berbagai jenis anak berkebutuhan khusus dan anak-anak autis,” kata Tri.
Lingkungan sekolah inklusif juga harus mencegah terjadinya penganiayaan atau bullying terhadap penderita autis. “Jadi perlu supporting system dari guru, masyarakat, dari teman-teman sekelas, tidak ada bullying, saling mendukung,” kata Tri.
Tri berharap ada penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan individu. “Ada individual education program, kurikulum berbasis kebutuhan individu. Gurunya juga harus training, fasilitas harus disertifikasi, sehingga standar seluruh Indonesia harus sama,” katanya.
Tri berharap dengan momentum Hari Autisme Internasional yang diperingati setiap 2 April, presiden dan para menterinya serta para anggota DPR RI tahu bahwa jumlah anak-anak autis dan berkebutuhan khusus di Indonesia semakin tinggi. “Jadi, perlu perhatian. Kalau enggak nanti akan jadi beban masyarakat, dan keluarga akan menanggung beban yang sangat berat,” katanya. [wir/but]






