Surabaya (beritajatim.com) – Sosialisasi program parkir digital yang digelar Dinas Perhubungan bersama kepolisian di Surabaya berujung ricuh. Dua kelompok terlibat aksi kekerasan dalam kegiatan yang berlangsung di kawasan Ruko Jalan Manyar Kertoarjo, Selasa (8/4/2026).
Kericuhan pertama terjadi pada siang hari saat petugas dari Dinas Perhubungan Kota Surabaya dan Polrestabes Surabaya melakukan sosialisasi kepada juru parkir (jukir) terkait kewajiban aktivasi rekening untuk mendukung sistem parkir digital non tunai.
Ketegangan mulai muncul ketika pembahasan menyentuh skema bagi hasil. Pemerintah Kota Surabaya menawarkan pembagian 60 persen untuk pemerintah dan 40 persen untuk jukir. Namun, para jukir menolak dan mengajukan tuntutan pembagian hingga 70 persen untuk mereka.
Selain itu, jukir juga meminta adanya jaminan asuransi kehilangan kendaraan serta fasilitas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
“Asuransi kehilangan ya ditanggung pemerintah dong. Terus juga jukir ini harus dilengkapi dengan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Karena kan kami ini profesi penuh risiko,” kata Izul Fikri, Rabu (8/4/2026).
Perbedaan pandangan tersebut membuat situasi memanas hingga terjadi aksi saling dorong antara petugas dan jukir. Ketegangan semakin meningkat saat seorang tokoh yang dikenal dengan nama Purnama hadir di lokasi. Ia mengaku mendapat perlakuan kasar, termasuk lemparan batu dan siraman air.
“Apa yang terjadi ke saya itu adalah bentuk wajah bagaimana jukir mengelola parkir. Dengan aksi premanisme dan anarkisme. Saya kira wajib untuk proses hukum lebih lanjut,” ujarnya melalui media sosial.
Insiden tersebut kemudian viral di media sosial dan memicu reaksi publik yang mengecam aksi kekerasan tersebut.
Situasi kembali memanas pada malam hari. Sekelompok massa tak dikenal mendatangi lokasi yang sama di Jalan Manyar Kertoarjo. Mereka diduga hendak melakukan sweeping terhadap jukir serta membalas kejadian siang hari.
Ketegangan antara kedua kelompok sempat terjadi sebelum akhirnya aparat kepolisian turun tangan. Warga dan pihak keamanan setempat juga berupaya meredam situasi agar tidak berkembang menjadi bentrokan terbuka.
Kapolsek Gubeng, Eko Sudarmanto, mengatakan pihaknya langsung melakukan mediasi untuk mencegah konflik meluas.
“Kita kemarin tengahi untuk kedua kelompok agar sama-sama ikut serta jogo Suroboyo. Memang tujuannya massa yang datang itu diduga untuk sweeping jukir,” ujarnya.
Aparat dari Polrestabes Surabaya yang dipimpin Kabag Ops AKBP Wibowo dan Kasat Samapta AKBP Erika Purwana turut mengamankan lokasi dan membubarkan massa.
Kericuhan berhasil diredam sekitar pukul 21.30 WIB setelah kedua kelompok diminta meninggalkan lokasi.
“Setelah selesai kita mediasi antar kedua kelompok kami minta kemarin langsung pulang dan membubarkan diri. Alhamdulillah semua nurut dan tidak terjadi bentrok,” pungkas Eko. [ang/beq]






