Bojonegoro (beritajatim.com) — Akses utama warga di Desa Kedungbondo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, terdampak longsor tanggul penahan tanah (TPT) yang menyebabkan badan jalan ambles. Peristiwa ini terjadi di RT 01 RW 01, jalur penghubung vital menuju Kecamatan Sumberrejo.
Kepala Desa Kedungbondo, Muh Fauzi, mengungkapkan bahwa longsor sebenarnya sudah mulai terjadi sejak November 2025. Namun, kondisi terparah terjadi pada Kamis, 12 Februari 2026 sekitar pukul 10.00 WIB, setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Debit Sungai Besuki yang meningkat hingga meluap memicu longsor susulan pada tanggul penahan tanah di sepanjang jalan poros desa.
“Longsor ini berdampak langsung pada jalan utama penghubung Kedungbondo–Sumuragung. Sebagian badan jalan ikut ambles dan cukup membahayakan pengguna,” ujar Fauzi, Senin (6/4/2026).
Data dari BPBD menyebutkan, longsor pada TPT memiliki panjang sekitar 32 meter dengan kedalaman mencapai 2,5 meter. Sementara itu, jalan yang ambles memiliki panjang kurang lebih 30 meter, lebar 5 meter, dan kedalaman sekitar 50 sentimeter.
Laporan kejadian baru diterima Pusdalops BPBD Bojonegoro pada Senin, 6 April 2026. Menindaklanjuti laporan tersebut, personel BPBD Jawa Timur bersama BPBD Bojonegoro langsung turun ke lokasi untuk melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat.
Saat ini, kondisi cuaca di lokasi terpantau cerah berawan dan situasi wilayah Kabupaten Bojonegoro secara umum dalam keadaan aman terkendali. Meski demikian, potensi longsor susulan tetap diwaspadai, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Untuk menjaga kelancaran akses, Pemerintah Desa Kedungbondo melakukan penanganan darurat dengan mengurug bagian jalan yang ambles menggunakan batu pedel. Upaya ini bersifat sementara agar kendaraan roda dua maupun roda empat masih dapat melintas.
Pemerintah desa berharap adanya penanganan lanjutan dari pihak terkait untuk memperkuat TPT serta memperbaiki struktur jalan secara permanen, mengingat jalur tersebut menjadi urat nadi mobilitas warga antar kecamatan. [lus/suf]






