Jember (beritajatim.com) – Kurang lebih 70 persen dari 30 unit pasar tradisional milik Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, perlu direvitalisasi.
Pemkab Jember awalnya berencana membenahi 12 pasar pada 2025. “Tapi yang bisa dikerjakan hanya lima pasar,” kata Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan Jember, Sartini, Sabtu (4/4/2026).
Sejumlah perbaikan itu meliputi rehabilitasi tembok di Pasar Kalisat, rehabilitasi tembok pembatas pintu jaga Pasar Mayang, rehabilitasi kantor Pasar Jenggawah, rehabilitasi Pasar Umbulsari, dan rehabilitasi tembok pagar pembatas Pasar Jenggawah.
Menurut Sartini, terbatasnya anggaran membuat perbaikan tak bisa menyeluruh. “Tambahan Perubahan APBD yang direncanakan untuk Pasar Tanjung, Pasar Patrang, Pasar Umbulsari, Pasar Tanggul, Pasar Kreongan, Pasar Balung, dan Pasar Kepatihan tidak bisa dieksekusi keseluruhan,” katanya.
Pemkab Jember hanya bisa merehabilitasi atap los pasar di Pasar Patrang dan Pasar Umbulsari, serta membuat musala di Pasar Tanjung. “Tapi ada musibah, atap Pasar Umbulsari kemarin terbang saat ada angin kencang,” kata Sartini.
Peristiwa ini terjadi tahun ini. Kurang lebih ada 21 lembar atap yang terbang disambar angin ribut. “Ini juga menjadi permasalahan karena di anggaran kami tidak tersedia untuk 2026. Kami tidak ada biaya untuk pemeliharaan itu,” kata Sartini.
Selain itu, menurut catatan Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Jember, Pasar Tanggul membutuhkan perbaikan kabel, papan nama, dan saluran air; Pasar Kreongan membutuhkan pavingisasi; dan Pasar Balung membutuhkan perbaikan atap serta saluran air.
“Kebetulan Pasar Kepatihan yang dekat dengan makam dan berbatasan dengan rumah warga itu ambrol,” kata Sartini.
Saat ini Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan baru mengajukan anggaran perbaikan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk Pasar Kepatihan.
Sementara Pasar Tegalboto di Kecamatan Sumbersari yang dibangun pada 2018 masih belum berfungsi optimal dan sepi pedagang. “Ini yang menjadi pekerjaan rumah kami untuk membuat telaah staf kepada pimpinan,” kata Sartini.
Sartini sebenarnya ingin Pasar Tegalboto dikelola pihak ketiga. “Tapi kami harus membuat sebuah kajian. Tidak bisa serta-merta kami memberikan usul saran tanpa dibarengi dengan kajian yang matang. Nanti takut salah langkah,” katanya. [wir/kun]






