Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengusulkan anggaran Rp 273 miliar kepada pemerintah pusat untuk membenahi Pasar Tanjung.
“Insyaallah kami sudah upload proposal ke sistem informasi Kementerian Perdagangan. Mohon untuk restunya agar bisa direalisasi pada 2006,” kata Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan Jember Sartini, Kamis (2/4/2026).
Rencananya revitalisasi Pasar Tanjung akan dilakukan dengan skema tahun jamak pada 2026 dan 2027. “DED sedang kita susun. DED itu diminta Kementerian Pekerjaan Umum mencerminkan karakteristik Kabupaten Jember, sehingga potret Pasar Tanjung mewakili Jember seperti apa,” kata Sartini.
Kementerian PU sebenarnya merencanakan pembangunan dua lantai. “Tapi karena di Pasar Tanjung existing hari ini hingga lantai tiga, kami minta di DED tiga lantai,” kata Sartini.
Pasar basah rencananya akan diletakkan di lantai dasar. Sementara pasar kering yang menjual pakaian dan makanan kering di lantai atas.
Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Jember mencatat ada 1.404 orang pedagang yang berjualan di dalam dan di pelataran Pasar Tanjung. Menjelang pembenahan pasar, Sartini akan memberikan sosialisasi menyeluruh kepada para pedagang soal jangka waktu penyelesaiannya.
Selama masa perbaikan tersebut, para pedagang akan direlokasi sementara di lapangan Talangsari dengan melibatkan asosiasi pedagang. Mereka harus mau kembali ke Pasar Tanjung setelah perbaikan selesai.
“Karena ada permasalahan di kabupaten dan kota lain, saat pasar sudah selesai mereka tidak mau balik. Ini salah satu alasan kenapa asosiasi pedagang harus terlibat. Semua harus sesuai tidak hanya keinginan pemerintah tapi juga teman-teman pedagang pasar,” kata Sartini.
Pasar Tanjung bukan satu-satunya pasar yang perlu perbaikan. Sartini menyebut. dari 30 unit pasar milik pemerintah daerah, sekitar 70 persen perlu direvitalisasi. Saat ini Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan baru mengakukan anggaran perbaikan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk Pasar Kepatihan.
Sementara Pasar Tegalboto di Kecamatan Sumbersari yang dibangun pada 2018 masih belum berfingsi optimal dan sepi pedagang. “Ini yang menjadi pekerjaan rumah kami untuk membuat telaah staf kepada pimpinan,” kata Sartini.
Saetini sebenarnya ingin Pasar Tegalboro dikelola pihak ketiga. “Tapi kami harus membuat sebuah kajian. Tidak bisa serta-merta kami memberikan usul saran tanpa dibarengi dengan kajian yang matang. Nanti takut salah langkah,” katanya.
Tak hanya pasar tradisional. tujuh pasar hewan di Jember pun membutuhkan revitalisasi. Pagar pasar hewan di Kecamatan Mayang sebenarnya sudah diperbaiki.
“Semuanya minta direvitalisasi, seperti tambatan hewan sudah enggak layak dan perlu pavingisasi agar tidak becek. Yang penting itu tambatan, karena kalau tambatannya tidak kuat, kalau sapinya lari bagaimana,” kata Sartini. [wir/aje]







1 Komentar
di benahi sampai seperti apa aja kalo SDM masih kolot suka buang sampah sembarangan, masih orang orang itu itu aja pelakunya tetep kumuh .. harus di tindak tegas…