Malang (beritajatim.com) – Guru Besar Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. H. Drs. M. Mas’ud Said, MM., Ph.D, menyerukan pentingnya pendekatan intelektual dalam menyelesaikan konflik global di tengah meningkatnya ketegangan dunia.
Seruan tersebut disampaikan melalui pemikiran dalam bukunya “Pengantar Studi: Konflik, Perdamaian, dan Resolusi Konflik”, yang menawarkan kerangka strategis bagi para pemimpin dunia untuk menghentikan siklus kekerasan dan membangun perdamaian berkelanjutan.
Pandangan itu disampaikan dalam forum MoA Signing & International Guest Lecture bertajuk “Contemporary Islamic Studies and Its Contribution in Building Civilization” di Gedung Pascasarjana Unisma, Selasa (31/3/2026).
Prof. Mas’ud memberikan kritik tajam terhadap paradoks politik global saat ini, di mana banyak pemimpin negara mengklaim menginginkan perdamaian, namun justru menempuh jalan konfrontatif.
“Buku kami tentang Resolusi Konflik ini ditulis bahkan sebelum pecahnya perang besar belakangan ini. Kami ingin menunjukkan bagaimana dunia harus mengatasi konflik dengan damai. Saat ini, pemimpin dunia salah arah; mereka ingin damai tapi dengan cara membunuh, ngebom, dan menguasai hak bangsa lain,” tegasnya.
Menurutnya, tidak ada negara yang secara hakiki menginginkan perang. Namun, tanpa pemahaman mendalam tentang resolusi konflik, ambisi politik dan kekuasaan kerap menutup ruang diplomasi.
Ia juga menyoroti dampak perang modern yang kini meluas hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat, tidak lagi terbatas pada wilayah konflik.
“Perang itu mempengaruhi ibu-ibu di rumah dan anak-anak di sekolah. Ketika ekonomi seret akibat APBN yang tersedot untuk dampak konflik, kehidupan tidak akan baik-baik saja. Itulah mengapa literasi mengenai resolusi konflik menjadi krusial untuk mereduksi potensi perluasan perang, termasuk ancaman senjata nuklir,” ujarnya.
Dalam konteks stabilitas regional, Prof. Mas’ud menilai ASEAN sebagai contoh keberhasilan dalam mengelola konflik secara damai. Meski menghadapi dinamika seperti konflik perbatasan di kawasan Asia Tenggara, negara-negara ASEAN dinilai mampu menjaga stabilitas melalui kesepakatan kolektif.
“Negara bangsa harus menjadikan kekuatan bertetangga sebagai modal bersama. Jika ASEAN kuat, Asia kuat. Kekuatan Asia inilah yang harus menjadi inspirasi bagi kawasan lain agar tidak terjebak dalam aliansi yang memicu kehancuran seperti di Timur Tengah,” jelasnya.
Selain itu, Unisma juga memperkuat langkah konkret melalui kerja sama internasional dengan Academy of Contemporary Islamic Studies (ACIS) Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.
Kolaborasi ini mencakup pertukaran mahasiswa, dosen, serta program pengabdian masyarakat lintas negara sebagai bagian dari penguatan jejaring akademik global.
Prof. Mas’ud menegaskan bahwa kolaborasi akademik menjadi instrumen penting dalam membangun pemahaman lintas budaya dan memperkuat perdamaian dunia.
“Ilmu itu tidak hanya ada di sekitar kita. Kita harus membuka jendela dunia. Melalui kerja sama internasional, kita bisa saling belajar—kita belajar teknologi dan ekonomi dari mereka, dan mereka belajar tentang harmoni Bhinneka Tunggal Ika dari kita,” pungkasnya. [dan/beq]






