Jember (beritajatim.com) – Seluruh ibu hamil di Kabupaten Jember, Jawa Timur, akan menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada April 2026. Ini bagian dari kerja satuan tugas bentukan Bupati Jember, Muhammad Fawait, yang terdiri dari 1.200 orang tenaga kesehatan.
“Kalau enggak salah kita punya target untuk memeriksa semua ibu hamil USG akhir April,” kata Bupati Fawait, Selasa (31/3/2026).
Para tenaga kesehatan memang ditugaskan untuk menekan angka tengkes dan angka kematian ibu dan bayi, terutama pada masa sebelum, saat, dan sesudah persalinan. Dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Tahun Anggaran 2025, Bupati Fawait menyebutkan adanya penurunan angka kematian ibu dan angka kemayian bayi masing-masing sebesar 59,26 dan 7,26.
Selain itu, ada percepatan penurunan stunting atau tengkes. “Pada tahun 2025 angka prevalensi stunting mengalami penurunan menjadi sebesar 20,1 persen setara dengan 9.582 anak dibandingkan 2024 sebesar 30,4 persen atau 10.414 anak,” kata Fawait.
Kantor Berita Nasional Antara melansir adanya 43 kasus angka kematian ibu pada 2024 dan 27 kasus pada 2025. Sementara untuk Januari-Maret 2026, Kantor Berita Nasional Antara menyebutkan, ada sepuluh kasus kematian ibu yang tersebar di beberapa kecamatan di Jember.
Beberapa kematian terjadi di wilayah kerja Puskesmas Gumukmas, Puskesmas Ledokombo, Puskesmas Mumbulsari, Puskesmas Silo 1, Puskesmas Puger, Puskesmas Gladakpakem di Kecamatan Sumbersari, Puskesmas Ajung di Kecamatan Ajung, dan Puskesmas Sukorejo di Kecamatan Bangsalsari.
Sebagian besar ibu tersebut meninggal saat proses persalinan di rumah sakit dan hanya satu orang yang meninggal di Puskesmas Puger. Rata-rata kematian disebabkan komplikasi obstetri yang meliputi pendarahan saat persalinan, pascapersalinan, hipertensi dalam kehamilan, dan memiliki penyakit penyerta.
Bupati Fawait meminta agar angka pada tiga bulan pertama tersebut tidak dijadikan pembanding. “Jadi membandingkan angka tidak boleh per tiga bulan dengan setahun, tidak apple to apple. Maka kita nanti menunggu sampai di akhir tahun 2026,” katanya.
Fawait menegaskan, program layanan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC) adalah ikhtiar menurunkan angka tengkes, angka kematian ibu, dan angka kematian bayi. “In akan berdampak terhadap upaya meminimalisir indeks gini, karena salah satu ketimpangan ketika pertumbuhan ekonomi naik adalah akses kesehatan masyarakat tidak mampu terhadap pelayanan kesehatan yang memadai,” katanya. [wir/beq]






