Madiun (beritajatim.com) – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Madiun dalam beberapa hari terakhir menyebabkan talud Bendungan Kedungrejo di Kecamatan Pilangkenceng ambrol.
Struktur penahan tanah di aliran Sungai Jerohan itu tak mampu menahan derasnya debit air hingga akhirnya jebol.
Peristiwa ini diketahui warga pada Selasa (31/3/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Sejak pagi, lokasi kejadian langsung dipadati warga Desa Kedungrejo yang ingin melihat kondisi talud yang runtuh.
Salah satu warga, Santo (70), mengatakan kerusakan diduga terjadi pada malam hari setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut secara intens. “Beberapa hari ini memang hujan terus. Kemarin sore masih bisa dilewati, tapi kemungkinan ambrolnya malam hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa hari sebelumnya. Namun, kondisi semakin parah pada hari ini hingga menyebabkan talud runtuh.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Simun (61). Ia mengungkapkan bendungan tersebut memiliki peran vital karena mengairi lahan pertanian di dua kecamatan. “Air dari sini mengalir ke Pilangkenceng dan Balerejo. Kami khawatir kalau kerusakan terus melebar bisa berdampak ke rumah warga,” katanya.
Sementara itu, petugas dari instansi terkait telah turun ke lokasi untuk melakukan penanganan awal. Area sekitar bendungan juga disterilkan guna mencegah warga mendekat ke titik rawan longsor.
Pengamat Operasional UPT PSDAWS Bengawan Solo wilayah Madiun, Andika Widodo, menjelaskan kerusakan talud cukup signifikan. Panjang bagian yang ambrol mencapai sekitar 20 meter, dengan lebar 18,80 meter dan tinggi 2,80 meter.
Menurutnya, kerusakan bermula sejak hujan deras yang terjadi pada Jumat (27/3/2026). Debit air yang meningkat menyebabkan struktur bendungan mengalami pergeseran hingga akhirnya runtuh.
“Awalnya terjadi pergeseran setelah hujan deras. Lama-lama kondisinya semakin parah hingga akhirnya ambrol seperti sekarang. Bahkan alat telemetri ikut jatuh terbawa longsoran,” jelas Andika.
Ia juga menyebutkan, Bendungan Kedungrejo selama ini mengairi lahan irigasi teknis seluas sekitar 1.436 hektar yang mencakup sejumlah desa, mulai dari Wonoayu hingga Babatan dan Warurejo.
Sebagai langkah darurat, pihaknya telah memasang sandbag dan membuat penahan sementara guna mengantisipasi aliran air masuk ke saluran irigasi secara tidak terkendali.
“Penanganan sementara kami lakukan dengan pemasangan karung pasir dan penguatan di titik rawan. Masyarakat juga kami imbau tidak mendekat demi keselamatan,” tandasnya.
Pihak UPT PSDAWS memastikan laporan kerusakan telah disampaikan ke pimpinan dan akan segera ditindaklanjuti dengan koordinasi lintas instansi untuk penanganan lebih lanjut. [rbr/suf]






