Kekuasaan jarang runtuh dalam satu malam. Ia lebih sering memudar, perlahan, hampir tanpa suara, sementara dunia masih mengira semuanya baik-baik saja. Di saat itulah sejarah bekerja paling efektif, bukan dengan menjatuhkan, tetapi dengan membiarkan beban menumpuk hingga tak lagi tertopang.
Di balik dunia yang tampak stabil, selalu ada sesuatu yang bekerja diam-diam, komitmen yang terus bertambah, biaya yang tak lagi kecil, dan kelelahan yang tak segera terlihat. Kekuatan besar tidak selalu gagal karena dikalahkan, tetapi karena terlalu lama menanggung apa yang tak lagi bisa dipikul.
Dalam The Rise and Fall of the Great Powers, Paul Kennedy (1987) membaca sejarah bukan sebagai parade kemenangan, tetapi sebagai ketegangan yang terus berulang antara ambisi dan kemampuan. Ia menempatkan ekonomi sebagai fondasi utama kekuasaan. Negara dapat memperluas pengaruh dan membangun kekuatan militer, tetapi semua itu bergantung pada daya dukung ekonomi yang menopangnya. Ketika keseimbangan ini terjaga, kekuasaan tampak kokoh. Ketika ia terganggu, kemunduran hanya menunggu waktu.
Kennedy menyebut momen itu sebagai imperial overstretch, ketika komitmen global melampaui kapasitas domestik. Negara terlihat perkasa di luar, tetapi mulai rapuh di dalam. Ada ilusi kekuatan yang bekerja, kemampuan yang dipertontonkan lebih besar daripada yang sesungguhnya bisa dipertahankan.
Sejarah berulang dengan pola yang hampir serupa. Spanyol Habsburg, Prancis, hingga Inggris pernah mengalami fase di mana luasnya imperium tidak lagi sebanding dengan kekuatan ekonominya. Inggris, misalnya, mempertahankan dominasi militernya bahkan ketika keunggulan industrinya mulai memudar. Perubahan tidak datang sebagai peristiwa dramatis, melainkan sebagai proses perlahan yang mengikis dari dalam.
Kennedy melihat gejala yang sama pada Uni Soviet di akhir Perang Dingin. Upaya mempertahankan status sebagai kekuatan global melalui belanja militer besar tidak diimbangi oleh pembaruan ekonomi domestik. Ketika fondasi itu runtuh, struktur politik menyusul. Dari sana, Kennedy mengarahkan refleksinya kepada Amerika Serikat, bukan untuk meramalkan kejatuhan, tetapi untuk mengingatkan tentang batas.
Hari ini, peringatan itu terasa semakin konkret. Amerika Serikat masih menjadi kekuatan militer utama dunia, dengan anggaran pertahanan yang melampaui 800 miliar dolar per tahun. Namun biaya mempertahankan posisi tersebut terus meningkat, tidak hanya dalam angka, tetapi juga dalam kompleksitas. Keterlibatan di Timur Tengah, dukungan terhadap Ukraina, serta komitmen di Indo-Pasifik membentuk jaringan kewajiban yang tidak mudah dilepaskan.
Dalam konflik terbaru, ketimpangan biaya menjadi semakin terlihat. Serangan drone dan rudal berbiaya rendah sering dihadapi dengan sistem pertahanan bernilai jutaan dolar. Ini bukan sekadar persoalan militer, tetapi logika ekonomi yang tidak seimbang. Kekuatan besar mengeluarkan biaya besar untuk menjaga stabilitas, sementara lawan dapat mengganggu dengan biaya jauh lebih kecil.
Ketimpangan ini jarang menghasilkan kekalahan langsung. Ia bekerja lebih pelan, mengikis kemampuan dari waktu ke waktu.
Lebih jauh, setiap alokasi untuk konflik eksternal selalu membawa konsekuensi domestik. Ia adalah peluang yang hilang. Di Amerika Serikat, perdebatan tentang utang publik, inflasi, dan kebutuhan investasi pada infrastruktur serta teknologi semakin mengemuka. Sumber daya yang digunakan untuk mempertahankan posisi global adalah sumber daya yang tidak digunakan untuk memperkuat fondasi di dalam negeri.
Sementara itu, kekuatan lain bergerak dengan cara berbeda. China memperkuat basis ekonominya melalui investasi pada teknologi, manufaktur, dan infrastruktur global. Ia memperluas pengaruh tanpa memikul beban militer global yang sama. Ini bukan berarti tanpa risiko, tetapi menunjukkan strategi yang lebih berfokus pada akumulasi kapasitas.
Di titik ini, pertanyaan yang dulu terasa terlalu spekulatif mulai terdengar lebih masuk akal: apakah yang kita saksikan hari ini merupakan the beginning of the end dari dominasi global Amerika Serikat?
Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, dan mungkin terlalu dini untuk disimpulkan. Sejarah tidak bekerja secara linier, dan kekuatan besar jarang berakhir dengan cara yang sederhana. Namun tanda-tandanya sering muncul jauh sebelum kesimpulan itu bisa diucapkan dengan pasti, melalui kelelahan yang menumpuk, melalui biaya yang tak lagi sebanding, melalui kemampuan yang perlahan menyempit.
Namun membaca Kennedy secara harfiah juga tidak tanpa masalah. Ia kerap dianggap terlalu menekankan faktor ekonomi. Kritik terhadapnya mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya ditentukan oleh angka, tetapi juga oleh inovasi, institusi, dan kemampuan beradaptasi. Negara tidak selalu jatuh mengikuti pola yang sama. Dalam beberapa kasus, ia mampu mengoreksi dirinya sebelum terlambat.
Dan di situlah pertanyaan utama hari ini berada. Bukan apakah Amerika Serikat akan melemah, tetapi apakah ia mampu menyesuaikan diri.
Dilema yang dihadapi bersifat klasik, tetapi skalanya kini global. Menarik diri berarti membuka kemungkinan kekosongan kekuasaan. Bertahan berarti terus menanggung biaya. Sementara itu, tekanan domestik semakin kompleks, ketimpangan meningkat, polarisasi menguat, dan ekspektasi publik berubah cepat.
Dalam konteks ini, ukuran kekuatan mulai bergeser. Ia tidak lagi semata tentang dominasi, tetapi tentang keberlanjutan. Bukan siapa yang menguasai paling luas, tetapi siapa yang mampu menjaga keseimbangan antara ambisi dan kapasitas.
Di titik ini, buku Kennedy berhenti menjadi sekadar karya sejarah. Ia berubah menjadi cermin. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan tidak runtuh ketika lemah, tetapi ketika gagal mengenali batasnya sendiri. Ambisi, pada awalnya, adalah energi. Namun tanpa kesadaran, ia berubah menjadi beban.
Dan sejarah, seperti biasa, tidak pernah tergesa-gesa. Ia tidak menghukum dengan segera. Ia menunggu, mencatat, dan membiarkan waktu bekerja.
Lalu, ketika akumulasi itu mencapai titiknya, ia tidak menjatuhkan, ia hanya mengoreksi.
Dengan cara yang hampir tak terasa, sebuah kekuatan hegemonik kemudian mengalami kemunduran. [Agus Trihartono, Dosen Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jember; Rektor UI Cordoba, Banyuwangi]






