Blitar (beritajatim.com) – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Moch. Irfan Yusuf memastikan kesiapan penyelenggaraan ibadah haji 1447H/2026M hampir mencapai 100 persen menjelang pemberangkatan kloter pertama pada 22 April 2026. Hal ini ditegaskan Menhaj saat meninjau kegiatan manasik haji jemaah Kota Blitar di Masjid Ar Rahman, Jawa Timur, Rabu (25/3/2026).
Dalam arahannya, Gus Irfan meminta seluruh jemaah untuk memaksimalkan bimbingan manasik sebagai bekal utama agar ibadah di Tanah Suci berjalan tertib, aman, dan sesuai syariat. Kesiapan ini mencakup aspek krusial mulai dari akomodasi di Makkah dan Madinah, layanan konsumsi, transportasi, hingga distribusi kartu Nusuk.
“Sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam menghadirkan layanan terbaik bagi jemaah, mulai dari pembinaan, pelayanan, hingga perlindungan,” tegas Gus Irfan di hadapan jemaah asal Kota Blitar.
Moch. Irfan Yusuf menjelaskan bahwa pembentukan kementerian khusus ini merupakan langkah strategis Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan layanan yang lebih fokus. Sesuai amanah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025, orientasi utama kementerian adalah memberikan pelayanan yang berpusat pada jemaah sejak masa persiapan hingga kembali ke tanah air.
“Kementerian ini hadir untuk memastikan pelayanan yang berpusat pada jemaah, sejak persiapan, pelaksanaan, hingga kembali ke tanah air,” lanjutnya.
Pemerintah tahun ini mengusung tagline “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan” untuk menjamin inklusivitas layanan. Kebijakan ini dibarengi dengan penguatan program strategis, seperti penyesuaian kuota berbasis daftar tunggu demi keadilan dan upaya penurunan biaya haji tanpa mengurangi kualitas fasilitas.
Terkait progres administratif, Menhaj mengungkapkan perkembangan signifikan pada sektor dokumen perjalanan. Kerja sama dengan pihak syarikah di Arab Saudi terus diperkuat untuk memastikan jemaah mendapatkan hak layanannya secara utuh.
“Akomodasi di Makkah dan Madinah, layanan konsumsi, transportasi, hingga perlengkapan jemaah telah dipersiapkan. Penerbitan visa juga telah mencapai lebih dari 95%,” jelas Menhaj.
Selain aspek teknis, pemerintah juga mulai mendorong ekspor produk dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah di Arab Saudi. Langkah ini merupakan bagian dari konsep “Tri Sukses Haji” yang mencakup sukses ritual, ekonomi, serta keadaban dan peradaban.
Menhaj mengingatkan jemaah bahwa kesempatan berhaji adalah panggilan istimewa yang menuntut kedisiplinan dan rasa kebersamaan yang tinggi antar jemaah selama berada di Arab Saudi.
“Bapak dan Ibu adalah orang-orang yang beruntung. Manasik ini menjadi bekal penting agar ibadah dapat dilaksanakan dengan benar, disiplin, dan penuh kebersamaan,” ungkapnya.
Menutup rangkaian tinjauan di Jawa Timur tersebut, Gus Irfan mengajak masyarakat mendoakan stabilitas situasi global agar tidak mengganggu jalannya ibadah. Kondusivitas wilayah Timur Tengah menjadi harapan besar demi keamanan ratusan ribu jemaah Indonesia.
“Kita semua berharap situasi di Timur Tengah tetap kondusif sehingga pelaksanaan ibadah haji dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar,” pungkasnya. [ian]






