Surabaya (beritajatim.com) – Drama China bertajuk Love Story in the 1970s menjadi salah satu tontonan menarik bagi pecinta kisah romansa berlatar sejarah. Serial yang diadaptasi dari novel karya Meng Zhong De Yi ini mengangkat cerita cinta realistis di tengah dinamika sosial Tiongkok pada era 1970-an. Kisahnya berpusat pada perjalanan hubungan Fang Mu Yang dan Fei Ni, mulai dari teman sekolah hingga menjalani pernikahan praktis yang perlahan berubah menjadi cinta mendalam.
Tayang perdana pada 21 Februari 2026 melalui platform streaming WeTV, drama yang dibintangi Chen Feiyu dan Sun Qian ini menghadirkan cerita yang tidak hanya romantis, tetapi juga sarat nilai kehidupan. Berikut lima alasan mengapa Love Story in the 1970s layak masuk daftar tontonan kamu.
1. Potret realistis kehidupan Tiongkok era 1970-an
Drama ini menyajikan gambaran autentik mengenai kehidupan masyarakat Tiongkok di bawah pengaruh situasi sosial-politik saat itu. Cerita menyoroti perjuangan masyarakat biasa dalam menghadapi keterbatasan, mulai dari masalah tempat tinggal hingga peluang pendidikan.
Salah satu konflik yang menonjol adalah kondisi keluarga Fei Ni yang tidak memiliki ruang tambahan di rumah. Situasi tersebut membuat kakaknya harus menunda pernikahan. Sementara itu, Fei Ni berusaha masuk universitas, tetapi prosesnya tidak mudah karena membutuhkan rekomendasi dari pihak berwenang. Penggambaran ini membuat cerita terasa dekat dengan realitas sosial pada masa tersebut.
2. Romansa slow-burn yang berkembang alami
Hubungan antara Fang Mu Yang dan Fei Ni dibangun secara perlahan. Sejak awal, Fang Mu Yang sudah menyimpan perasaan, namun keduanya sempat berpisah dan bertemu kembali dalam kondisi yang berbeda. Setelah kecelakaan yang membuat Fang Mu Yang kehilangan ingatan, hubungan mereka mulai terjalin kembali secara bertahap.
Bahkan setelah menikah, keduanya masih menjaga jarak dan tidak langsung menunjukkan kedekatan romantis. Pendekatan ini membuat perkembangan hubungan terasa natural dan emosional, tanpa adegan berlebihan.
3. Detail visual yang memperkuat nuansa sinematik
Tanpa mengandalkan efek visual besar, drama ini tetap memikat melalui detail sederhana. Sutradara memanfaatkan properti kecil untuk menciptakan atmosfer hangat dan realistis, seperti kaleng biskuit yang dijadikan vas bunga hingga pencahayaan unik saat adegan menonton film di malam hari.
Pengambilan gambar yang rapi, komposisi kamera yang matang, serta penggunaan warna yang lembut membuat setiap adegan terasa sinematik dan penuh makna.
4. Karakter utama yang kontras namun saling melengkapi
Fei Ni digambarkan sebagai sosok ambisius dan disiplin, sementara Fang Mu Yang memiliki karakter lebih fleksibel dan berani mengambil langkah di luar aturan. Perbedaan ini justru menjadi kekuatan utama hubungan mereka.
Saat Fei Ni merasa putus asa menghadapi masalah tempat tinggal, Fang Mu Yang mengambil tindakan kreatif yang akhirnya membantu mereka mendapatkan rumah. Dinamika ini menunjukkan bagaimana keduanya saling mendukung dan tumbuh bersama.
5. Karakter pendukung yang memperkaya alur cerita
Selain pasangan utama, drama ini menghadirkan karakter pendukung yang berperan penting dalam perkembangan cerita. Keputusan besar yang diambil tokoh utama sering dipengaruhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.
Interaksi antar karakter tersebut membuat alur cerita terasa hidup dan emosional, sekaligus memperkuat pesan tentang pentingnya dukungan sosial dalam menghadapi kehidupan.
Secara keseluruhan, Love Story in the 1970s bukan hanya drama romansa biasa. Serial ini menghadirkan perpaduan kisah cinta, perjuangan hidup, serta gambaran sosial yang kuat.
Dengan alur yang berkembang perlahan, karakter kuat, dan visual yang hangat, drama ini menjadi salah satu C-drama yang patut ditonton tahun ini.(mnd/aje)






