Ponorogo (beritajatim.com) – Dari dapur sederhana di Desa Lengkong, Kecamatan Sukorejo, camilan tradisional peyek justru menembus pasar luar negeri saat momentum Lebaran 2026. Permintaan tak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga mengalir hingga negara Hongkong.
Adalah Tita, pelaku UMKM rumahan yang merasakan lonjakan pesanan signifikan jelang Idul Fitri. Produk peyek buatannya kini tak lagi sekadar pelengkap makan, melainkan naik kelas menjadi hampers Lebaran yang diburu pelanggan lintas daerah hingga mancanegara.
“Alhamdulillah, selain pesanan lokal, rempeyek buatan kami juga sudah sering dikirim untuk memenuhi pesanan pelanggan di Hongkong,” kata Tita, Kamis (26/3/2026).
Permintaan yang melonjak membuat aktivitas produksi meningkat drastis. Sejak pukul 04.00 WIB, Tita bersama keluarganya sudah mulai menyiapkan adonan untuk mengejar target pesanan. Dalam sehari,
Dia mampu memproduksi hingga lima kali adonan, dengan setiap sesi menghabiskan sekitar 800 gram bahan baku. Strategi produksi bertahap ini, dilakukan untuk menjaga kualitas sekaligus memastikan pesanan terpenuhi tepat waktu.
“Proses membuat adonan dilakukan mulai subuh sampai jam 8 pagi, baru kemudian digoreng agar kualitas renyahnya terjaga,” ungkapnya.
Selama musim Lebaran, pesanan mencapai ratusan toples. Peyek tersebut dipasarkan dengan harga Rp 50.000 untuk ukuran sedang dan Rp 80.000 untuk ukuran besar. Daya tarik utama produk ini terletak pada variasi rasa yang beragam, mulai dari kacang tanah, kedelai putih dan hitam, lotho, kacang hijau, hingga udang rebon.
Kombinasi rasa gurih dan tekstur renyah menjadi kunci loyalitas pelanggan. “Ada varian rasa peyek, mulai dari kacang tanah, kedelai putih dan hitam, lotho, kacang hijau, hingga udang rebon,” katanya.
Momentum Lebaran terbukti menjadi titik lonjakan bagi UMKM seperti milik Tita. Dari skala rumahan, produk lokal Ponorogo mampu menembus pasar internasional. Di tengah tradisi Lebaran, geliat ekonomi desa tetap bergerak. [end/suf]






