Ponorogo (beritajatim.com) – Bahaya mercon kembali nyata dan tak bisa dianggap sepele. Seorang remaja berinisial KA (13), warga Desa Semanding, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, menjadi korban, setelah ledakan mercon buatannya sendiri menyambar tubuhnya. Kejadian itu terjadi pada hari Kamis (19/3/2026) malam.
Peristiwa itu bermula saat korban mencoba menyalakan mercon yang dirakit secara mandiri. Bukannya meledak sesuai harapan, mercon justru gagal menyala sempurna. Percikan api kemudian menyambar bahan mesiu di sekitar korban dan seketika memicu kobaran yang melukai wajah, tangan, dan kaki.
Insiden mercon yang membawa petaka pun semakin menegaskan bahwa mercon bukan sekadar permainan, melainkan ancaman serius yang bisa berujung pada peristiwa tragis. Penggunanya berpotensi mengalami resiko luka berat bahkan kehilangan nyawa sangat terbuka.
Korban pun langsung dilarikan ke RSUD dr. Harjono Ponorogo untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Luka bakar yang dialami tergolong cukup luas dan membutuhkan tindakan lanjutan. dr. Mega Citra, dokter jaga di IGD RSUD Harjono, membenarkan kondisi tersebut.
“Lukanya sekitar 19,5 persen dibagian wajah, tangan dan kaki. Ini sudah dirawat luka, sudah diberikan obat-obatan dan infus terus karena ini membutuhkan penanganan segera, maka dirujuk untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut,” ungkapnya saat dikonfirmasi wartawan, Jum’at (20/3/2026).
Meski saat ini kondisi korban dalam keadaan sadar dan stabil, pihak medis menegaskan penanganan luka bakar tidak bisa dianggap ringan. Risiko infeksi hingga komplikasi lain masih mengintai. Sehingga pasien harus menjalani perawatan lanjutan dan pemantauan ketat.
Fakta lain yang tak kalah mengkhawatirkan, korban diketahui merakit mercon bersama rekannya, NA (13), dengan belajar dari media sosial. Tanpa pendampingan dan pemahaman risiko, aktivitas tersebut berubah menjadi jebakan berbahaya.
Dari lokasi kejadian, petugas kepolisian mengamankan 91 selongsong mercon, sisa bahan mesiu, serta bungkus paket pembelian online. Temuan ini menunjukkan betapa mudahnya bahan berbahaya diakses, sekaligus memperbesar potensi kejadian serupa terulang.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi masyarakat. Mercon bukan tradisi yang aman, melainkan praktik berisiko tinggi yang dapat merenggut keselamatan. Pengawasan orang tua dan kesadaran bersama menjadi kunci agar kejadian serupa tidak kembali terulang, terutama menjelang momen hari raya. (End






