Surabaya (beritajatim.com) – Atlet dinilai sebagai aset bangsa yang memiliki kontribusi besar dalam mengharumkan nama Indonesia di berbagai ajang olahraga, sehingga perlu mendapatkan perlindungan sosial yang memadai, termasuk melalui program BPJS Ketenagakerjaan.
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Juanda, Teldi Rusnal, menegaskan bahwa atlet pada dasarnya merupakan bagian dari profesi yang memiliki risiko kerja tinggi, terutama terkait potensi kecelakaan dan cedera saat bertanding maupun berlatih.
“Pada dasarnya atlet itu juga termasuk pekerjaan. Karena itu harus didaftarkan di BPJS Ketenagakerjaan, apalagi risiko kecelakaannya cukup tinggi,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Ia menyebutkan bahwa potensi cedera tidak hanya terjadi pada cabang olahraga dengan kontak fisik tinggi seperti combat sport, tetapi juga pada cabang olahraga lain yang relatif minim benturan.
“Jangankan atlet combat, yang bukan seperti renang pun tetap rentan mengalami cedera otot,” tambahnya.
Upaya perlindungan ini juga diperkuat melalui kolaborasi dengan KONI Jawa Timur sebagai induk organisasi olahraga di daerah. BPJS Ketenagakerjaan pun membuka peluang agar atlet non-Puslatda dapat memperoleh perlindungan serupa, selama mereka terdaftar secara resmi dalam klub atau organisasi olahraga.
Menurut Teldi, jaminan sosial tersebut bisa diberikan sejak atlet masih usia dini hingga memasuki masa produktif, sehingga keberlanjutan karier atlet tetap terjaga dengan dukungan perlindungan yang optimal.
Sementara itu, Direktur Utama RS Ubaya, dr. Wenny Retno Sarie Lestari, menyampaikan bahwa pihaknya sebagai rumah sakit rujukan turut mendukung upaya perlindungan kesehatan bagi atlet melalui layanan yang terintegrasi sebagai provider BPJS Ketenagakerjaan.
“Selama beberapa tahun bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan Juanda, cukup banyak atlet Jawa Timur yang kami tangani,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa layanan yang diberikan mencakup pencegahan, promosi kesehatan, pengobatan, hingga rehabilitasi cedera. Tim medis RS Ubaya juga kerap melakukan pendampingan langsung di lapangan, khususnya pada cabang olahraga dengan risiko cedera tinggi seperti olahraga combat.
Pendampingan tersebut memungkinkan atlet mendapatkan penanganan secara cepat sehingga proses pemulihan dapat berjalan lebih optimal.
Wenny menambahkan, salah satu cedera yang paling sering dialami atlet adalah cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) pada lutut yang membutuhkan biaya pengobatan cukup besar, terutama jika harus menjalani tindakan operasi.
Melalui kerja sama ini, atlet dapat memperoleh layanan medis tanpa harus menanggung biaya besar, termasuk hingga tahap rehabilitasi.
“Ini memberikan rasa aman dan nyaman bagi atlet sehingga mereka bisa fokus dan all out bertanding tanpa harus memikirkan biaya pengobatan,” pungkasnya. [way/beq]






