Jember (beritajatim.com) – Kawasan yang masih berfungsi sebagai hutan murni kian hari kian menyusut. Saat ini dari jutaan hektare, tersisa hanya ratusan ribu hektare yang masih murni berfungsi sebagai hutan.
“Perhutani saat ini mencatat hanya sekitar 680 ribu hektar kawasan yang benar-benar masih berfungsi sebagai hutan murni dan sehat dari total jutaan hektar yang ada. Sisanya telah mengalami degradasi dan beralih fungsi menjadi lahan jagung oleh masyarakat,” kata Kepala Perum Perhutani Divisi Regional Jatim Wawan Triwibowo, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember, Kamis (12/3/2026).
Menurut Wawan, setelah 65 tahun mengelola hutan, Perhutani tengah melakukan transformasi besar dengan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kayu jati. Pendapatan dari getah pinus dan pariwisata telah melampaui kayu jati pada 2025.
“Kami berupaya menyeimbangkan aspek planet, people, dan profit. Hutan memiliki manfaat luas, mulai dari bahan baku obat untuk farmasi hingga penyokong pangan melalui swasembada gula dengan integrasi tanaman tebu di lahan hutan,” kata Wawan.
Salah satu penguatan upaya ini ditempuh melalui Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandangani Wawan dengan Rektor Universitas Jember Iwan Taruna, di gedung Rektorat Unej, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (12/03/2026).
Perhutani berharap kerja sama sinergi antara dunia akademik dan pengelola hutan negara dapat semakin memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Wawan Triwibowo mengatakan, kelengkapan vegetasi menjadikan Jember sebagai laboratorium kehutanan yang sangat ideal bagi dunia pendidikan di Jawa Timur. “Hutan di Jember itu lengkap, mulai dari dataran tinggi sampai pinggir pantai semua ada di sini. Ini bisa jadi laboratorium kehutanan bagi dunia pendidikan,” katanya.
Iwan Taruna menegaskan tanggung jawab moral dan akademik Unej untuk berkontribusi terhadap pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. “Pengelolaan hutan saat ini harus bergeser dari sekadar fokus produksi menuju pelestarian pembangunan yang berdampak nyata,” katanya.
Dalam hal ini, Unej ingin memastikan untuk memfasilitasi masyarakat melalui kolaborasi yang berdampak langsung. “Melalui kerja sama yang terbuka bagi seluruh fakultas ini, kita ingin mengoptimalkan hutan sebagai sumber kehidupan, terutama di saat negara tengah fokus pada ketahanan pangan,” kata Iwan.
Acara dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember Dafik dan Administratur Perhutani KPH Jember Eko Teguh Prasetyo.
Perjanjian kerja sama ini berlaku selama dua tahun, mulai 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2028. Ruang lingkup kerja sama meliputi inventarisasi dan pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan hutan, penelitian bersama terkait pengelolaan hutan berkelanjutan, program magang mahasiswa, studi independen, pertukaran data ilmiah, serta penguatan kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.
Selain itu, kerja sama juga mencakup pengembangan wisata alam dan kegiatan edukasi lingkungan. Perhutani akan menyediakan kawasan hutan sebagai lokasi kegiatan lapangan bagi mahasiswa serta dukungan pembimbing teknis di lapangan.
Sementara itu, FMIPA Universitas Jember akan menyiapkan dukungan akademik, pembimbing, serta pembiayaan kegiatan mahasiswa yang terlibat dalam program tersebut. [wir]






