Situbondo (beritajatim.com) – Delapan kecamatan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, dihantam banjir dan angin puting beliung, Sabtu (7/3/2026). Dua warga Kecamatan Jatibanteng hilang terseret arus dan belum ditemukan hingga sekarang.
Bencana banjir dan angin kencang terjadi di Kecamatan Jatibanteng, Banyuglugur, Besuki, Mlandingan, Bungatan, Kendit, Situbondo, dan Suboh.
Dua orang yang hilang adalah warga Jatibanteng. Tohari (40), warga Desa Patemon, hilang saat pergi ke sawah untuk mencari rumput. Sementara Jaelani (40), warga Desa Sumberanyar, hilang saat perjalanan pulang dari ladangnya setelah memanen jagung.
“Banjir saat ini lebih besar daripada banjir pada 21 Januari 2026. Arusnya lebih deras, banyak pohon yang tumbang, rumah yang hancur,” kata Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo, usai berkeliling meninjau lokasi banjir, Minggu (8/3/2026).
Banjir terjadi lagi di Jatibanteng sebelum rekonsutruksi pasca banjir 21 Januari dimulai. “Bahkan ada korban jiwa. Saya kira ini levelnya harus kita naikkan ke tanggap darurat, karena sudah membahayakan,” kata Rio.
Menurut Rio, hujan dan puting beliung sudah terjadi berhari-hari. “Bahkan diprediksi sampai 10 Maret 2026. Tapi dugaan saya lebih daripada itu, karena kemarin diprediksi sampai 6 Februari 2026, ternyata sekarang masih belum selesai,” katanya.
Selain curah hujan yang tinggi dan angin kencang, pendangkalan sungai juga jadi persoalan. “Normalisasi dua sungai memang dibutuhkan,” kata Rio.
Selain membuat status tanggap darurat bencana, Rio juga mengupayakan pencarian dua warga yang hilang terseret arus. “Kita cari terus,” katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo Timbul Harjanto telah menyalurkan bantuan kepada warga terdampak serta mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan logistik, dengan dibantu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah barat.
“Bantuan TRC BPBD Jawa Timur juga sudah disalurkan mulai tadi malam,” kata Timbul. Petugas juga mendata dan mengevakuasi warga terdampak dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. [wir]






