Malang (beritajatim.com) – Masalah kanker payudara yang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia memicu sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) untuk berinovasi. Melalui teknologi bertajuk BUDDY (Breast Urgency Detection Device with Thermography), tim mahasiswa ini sukses meraih predikat runner up pada ajang International Student Competition 2026 yang diselenggarakan oleh CEM UPM Malaysia.
Inovasi ini digagas oleh empat mahasiswa berbakat, yakni Dastino Putra Rendy Lovind dan Anggie Fadillah Dwiva dari jurusan Teknik Bioproses, serta Livy Noer Azizah dan Rifda Alfia Safina dari jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP). Mereka menciptakan solusi deteksi dini yang praktis, cepat, dan non-invasif untuk menjawab keresahan masyarakat terhadap prosedur pemeriksaan konvensional.
Ketua Tim, Dastino Putra Rendy Lovind, menjelaskan bahwa ide pembuatan BUDDY bermula dari kepekaan mereka terhadap rendahnya tingkat edukasi deteksi mandiri di masyarakat. Meski metode SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis) sudah ada, banyak pasien merasa tidak nyaman atau enggan melakukan pemeriksaan karena kendala teknis dan biaya.
“Kami mencoba membuat alternatif pemeriksaan yang dapat dilakukan sendiri di rumah. Sistem ini memanfaatkan kamera termal yang diintegrasikan dengan aplikasi ponsel, sehingga mampu memberikan hasil pemeriksaan secara instan hanya dalam waktu 5 hingga 10 detik,” ujar Dastino dalam keterangan resminya, Jumat (6/3/2026).
Cara kerja BUDDY tergolong sangat sederhana namun didukung oleh teknologi yang kompleks. Pengguna cukup mengisi survei kesehatan di aplikasi, kemudian melakukan pengambilan gambar menggunakan kamera termal dengan jarak horizontal 60 cm dari payudara.
Data gambar tersebut kemudian dikirim ke server hosting BUDDY untuk diolah. Kecanggihan utama alat ini terletak pada penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Dastino memaparkan bahwa otak dari sistem ini adalah AI YOLO v8 yang telah dilatih menggunakan ribuan sampel foto dari DMR dan anotasi Roboflow. Hasil deteksinya pun sangat detail, mencakup titik lokasi massa, ukuran, hingga klasifikasi stadium kanker payudara yang terdeteksi.
Inovasi BUDDY untuk deteksi kanker payudara buatan mahasiswa UB (Foto: Istimewa)
“Secara garis besar, kamera termal bertindak sebagai mata untuk menangkap data suhu, sementara perangkat lunak dan AI yang telah kami latih berperan sebagai otak yang memberikan diagnosis akurat,” tambahnya.
Meski sukses menyabet penghargaan internasional di Malaysia, perjalanan tim ini tidaklah mulus. Dastino mengakui sempat mengalami kendala finansial terkait biaya registrasi finalis.
Beruntung, dukungan dari pihak fakultas dan kekompakan tim mampu menutupi sebagian biaya yang dibutuhkan hingga mereka bisa berangkat dan menang. Atas dasar pengalaman tersebut, Dastino berharap pihak kampus dapat memberikan dukungan dana yang lebih masif bagi mahasiswa yang ingin berkompetisi di level internasional.
Ia juga memotivasi mahasiswa lain untuk tidak takut mencoba, karena keberanian adalah langkah awal menuju kemenangan. Inovasi BUDDY sendiri kini telah memiliki legalitas hukum yang kuat.
Teknologi ini resmi terdaftar dalam Hak Paten dengan nomor EC00202467457 tertanggal 18 Juli 2024. “Ke depannya, kami berharap pemerintah atau investor dapat membantu pengembangan skala besar agar alat ini bisa dikomersialisasikan dan membantu jutaan wanita dalam melakukan deteksi dini secara mandiri,” kata Dastino menutup. (dan/kun)






