Jember (beritajatim.com) – Setelah rudal Amerika Serilkat menghantam Teheran Bupati Muhammad Fawait bergegas mengecek keberadaan dan keselamatan warga Kabupaten Jember, Jawa Timur di ibu kota Iran tersebut.
“Saya terkejut karena kami mendapat kabar ada serangan terhadap Iran. Setelah mendapatkan laporan, kami segera berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI. Kami ingin cek apakah ada WNI dari Jember,” kata Fawait kepada Beritajatim.com via sambungan telepon dari Arab Saudi, Minggu (1/3/2026) dini hari Waktu Indonesia Barat.
Fawait berjanji akan terus memantau situasi dan kondisi terkini. “Kalau pun ada, kami akan terus berkoordinasi erat dengan KBRI sebagai kepanjangan tangan negara di Iran. Kami tentu berharap tidak terjadi apa-apa terhadap WNI dari Jember,” katanya.
Saat ini Fawait tengah berada di Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah. “Agak terasa di perbincangan kami yang hari ini sedang menjalankan ibadah umrah, terkait serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran,” katanya.
Namun, menurut Fawait, situasi di Arab Saudi masih kondusif. “Di Timur Tengah kita tahu ada beberapa negara yang menutup areal udaranya. Tapi Saudi Arabia sampai malam ini tidak membuat kebijakan yang sama. Artinya masih kondusif untuk penerbangan jemaah umrah yang langsung dari Indonesia ke Saudi,” katanya.
“Tapi tentu ini akan sedikit berpengaruh ketika mereka harus transit dulu memakai maskapai ke negara-negara yang menutup wilayah udaranya,” kata Fawait.
Fawait mengajak warga Jember untuk berdoa agar situasi segera damai dan kondusif. “Kami mohon doa semoga bisa segera kembali pulih dan keluarga jemaah umrah di Jember tetap tenang. Karena di sini masih sangat kondusif. Kalau tidak kondusif, tentu pemerintah akan mengambik kebijakan-kebijakan yang taktis untuk mengamankan warga negara RI,” katanya.
Di luar itu, Fawait memperkirakan serangan ke Iran akan berdampak secara internasional. “Kita tahu bahwa apapun yang terjadi di sebuah negara, akan berpengaruh pada kondisi secara global, termasuk dalam konteks ekonomi,” katanya.
“Kita tahu bahwa negara-negara, termasuk Indonesia, hari ini menganut open economics dengan adanya ekspor-impor. Maka dengan adanya kondisi peperangan atau dinamika seperti di Iran tentu mengakibatkan banyak dampak,” kata Fawait.
Pengaruh akan terasa pada sektor ekonomi. Namun, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya ini yakin, dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang hari ini berfokus pada pengembangan usaha mikro kecil menengah, pengaruhnya tak akan signifikan.
“Kita tahu bahwa krisis (ekonomi) dunia di Indonesia berdasarkan sejarah bisa segera teratasi karena Indonesia memiliki permintaan domestik besar. Kita selalu diselamatkan UMKM, sektor ekonomi informal,” kata Fawait.
“Apalagi hari ini pemerintah pusat getol-getolnya menghidupkan sektor ekonomi informal lewat kebijakan-kebijakan seperti Koperasi Merah Putih, MBG, dan lain sebagainya,” kata Fawait. [wir]






