Surabaya(beritajatim.com)- Siapa yang menyangka, buah sukun yang sering anda jumpai tumbuh di pinggir jalan kini tengah menarik perhatian dunia.
Jika dulu sukun identik dengan gorengan sederhana untuk camilan pendamping minum teh, sekarang buah ini mulai dilirik sebagai superfood masa depan karena kandungan gizinya yang melimpah.
Di luar negeri, sukun dikenal sebagai breadfruit, nama yang diberikan karena tekstur dan aromanya menyerupai roti panggang ketika dimasak.
Popularitas sukun di tingkat global sebenarnya bukan hal baru. Sejak abad ke-18, penjelajah Inggris telah membawa tanaman ini ke berbagai wilayah koloni sebagai sumber pangan yang dinilai stabil dan tahan lama.
Dari kawasan Pasifik, sukun kemudian menyebar ke Afrika, Asia, hingga Amerika. Selain itu, sukun juga memiliki manfaat untuk kesehatan. Sukun memiliki nutrisi yang lengkap.
Buah ini mengandung karbohidrat yang membuat tubuh kenyang lebih lama, serat yang tinggi, serta mineral penting seperti kalium, magnesium, dan kalsium.
Kandungan vitamin C dan antioksidannya juga cukup tinggi, sehingga baik untuk menjaga daya tahan tubuh. Serat dalam sukun bahkan lebih tinggi dibandingkan nasi putih dan kentang, membuatnya bermanfaat untuk pencernaan dan membantu mengontrol kadar gula darah.
Tak hanya bergizi, sukun juga dikenal ramah lingkungan. Pohonnya mampu tumbuh di lahan kurang subur dan tahan terhadap cuaca ekstrem.
Di luar negeri, sukun tidak hanya diolah secara sederhana seperti menjadi gorengan. Namun, mereka menjadikannya bahan baku beragam produk modern, mulai dari tepung bebas gluten, keripik, hingga makanan siap saji.
Produk berbahan breadfruit pun mulai diminati, terutama oleh konsumen yang sedang diet dan ingin menghindari gluten.
Pengolahan sukun di luar negeri juga didukung teknologi yang memungkinkan produk bertahan lebih lama. Tepung sukun berkualitas tinggi, sukun beku siap masak, hingga berbagai olahan
lainnya kini dipasarkan secara luas. Di beberapa daerah seperti Hawaii, petani bahkan mengembangkan sukun sebagai alternatif pengganti gandum untuk roti, pasta, dan mi.
Tak hanya itu, pati sukun juga mulai dimanfaatkan dalam industri farmasi dan kosmetik sebagai bahan alami. Sedangkan bagian lain dari tanaman sukun, seperti getah dan bunganya, juga bisa diolah menjadi bahan produk ramah lingkungan, seperti pengusir nyamuk alami.
Melihat besarnya potensi tersebut, buah sukun tak lagi sekadar buah tradisional. Kini sukun
mulai disebut sebagai “supergrain” dari wilayah tropis yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Dengan pengelolaan yang tepat dan kreatif, buah lokal ini akan mampu bersaing dalam pasar global dan dapat membantu perekonomian petani lokal seiring tingginya minat ekspor
sukun. [Wakhdah Alisa Berliana]






