Sidoarjo (beritajatim.com) – Adipati Terung Raden Timbal (pada babad lain bernama Raden Kusen atau Raden Usen) mendapat tugas pelik dari Raja Majapahit. Memanggil kakaknya sendiri, Adipati Bintara Raden Patah.
Jika tidak bersedia dipanggil, Adipati Terung boleh bertindak apapun. Termasuk perang. Sebab menolak panggilan raja adalah makar.
Sebagai ksatria, Adipati Terung mantap berangkat. Baginya, ucapan raja adalah sabda, wajib dijalankan. Membela negara adalah darma.
Semua kisah getir ini tercatat dalam Serat Demak, tahun 1831 Masehi.
Kang sinuwun ngandika hèh Dipati Trung | kakangira Patah | nadyan balela narpati | timbalana srana ari madubranta ||
Lamun mogok apa sak karsanta rampung | nadyan têkèng dêrdah | păncakara rêbut sêkti | sakarsanta wus ukume wong balela ||
Baginda bersabda, “Hai Dipati Terung, kakakmu Patah, meskipun membangkang kepada raja, panggillah dengan cara yang baik.
Jika menolak, terserah kehendakmu untuk menyelesaikannya, meskipun sampai terbunuh, tuntas perebutan kesaktian, terserah kehendakmu, itulah hukuman bagi orang yang membangkang”.
Bersama ribuan pasukan, Adipati Terung telah tiba di perbatasan Bintara. Belum sempat berperang, Adipati Terung mendapat surat dari kakaknya, Adipati Bintara. Surat yang meminta agar Adipati Terung membelot dari Majapahit dan berbalik arah membela Bintara.
Adipati Terung membalasnya. Dengan surat pula. Sebuah surat yang menyentuh perasaan tetapi sekaligus memerlihatkan sikap kegagahan seorang ksatria.
Berikut terjemahan bebas dari isi surat Adipati Terung kepada Adipati Bintara dalam Serat Demak:
Sembah bakti hamba dari Terung, Arya Pecattandha, yang diangkat menjadi bupati, pemimpin bala Wilatikta di medan perang.
Hamba telah meneliti gema kata-kata dari surat Paduka; hamba didorong untuk membalik niat.
Hamba melihat ajakan yang sungguh-sungguh dari Kakanda, untuk bergabung di Bintara. Hamba sangat merasa bahagia dan bersyukur, tanggung jawab ini hamba junjung tinggi di atas kepala.
Namun beribu-ribu ampun hamba haturkan, hamba tetap teguh hati; bagai lebah pencari madu tanpa gentar, siap menanggung sakit dan maut demi menepati sabda.
Kanjeng Sinuwun Majapahit amatlah luhur kasihnya, memberi anugerah yang suci, mengangkat dengan cinta dan welas asih, menobatkan hamba sebagai adipati serta menganugerahi negeri.
Sejak lama kebesaran beliau menaungi hamba, kini datang pekerjaan yang penting bagi tegaknya bumi negeri; darah dan daging hamba dipersembahkan kepada sang raja.
Jiwa raga telah hamba serahkan kepada Sang Prabu; siang dan malam hamba berharap, kejayaan dan keselamatan negara; dalam tekad hamba tiada belas pada sanak keluarga.
Sebagai satria keturunan perwira berhati kukuh, layak tetap menjaga negara, setia hingga menghadapi kematian; jika negeri sirna, rumah hamba pun ikut lenyap.
Tak terhitung tekad para prajurit, siap hancur bercampur tanah; meski membela raja Buddha atau kafir, keturunan ksatria takkan gentar berperang.
Tak sekali pun hamba berniat tunduk kepada negeri Bintara; hamba bukan manusia hina, keturunan damai yang bukan berjiwa rendah.
Raja agung laksana dewa, memerintah seluruh tanah Jawa; bijaksana dalam budi dan laku, adil serta menenteramkan hati rakyat.
Para abdi besar dan kecil menerima karunia, cukup sandang dan kesejahteraan; kasih tak pernah berkurang, maka seluruh rakyat menyerahkan jiwa raganya.
Semua berusaha demi tugas utama, siap luluh bersama bumi; menghadapi bahaya yang datang, hati bersatu demi tegaknya negara.
Para tumenggung dan adipati seperti hamba, tak goyah sedikit pun; sejak lahir tak mencari keuntungan pribadi, lama membangun kewibawaan dan nama.
Tak memikirkan diri dan keluarga yang tertinggal, ingin menumpas kejahatan yang merusak bumi, agar negara kembali tenteram dan sejahtera.
Aneh kiranya bila Paduka justru memulai niat jahat, mengikuti kehendak para santri; Majapahit sejatinya juga milik Paduka.
Tak elok memohon kasih lalu merampas, sebab hanya membawa bencana; lebih utama sabar menerima, apakah para santri kehilangan keyakinan?
Perjalanan hamba kini atas titah Sang Prabu, kepada ayahanda Paduka; Kakangmas dipanggil menghadap, bila Paduka tetap memilih memberontak.
Kejahatan terhadap raja tak patut dibiarkan; Kakangmas, silakan mempertimbangkan. Hamba akan menghadap ke Majalengka menyembah ayahanda Paduka.
Meski memohon wahyu kerajaan, jalan masih terbuka; untuk menjadi raja telah tersedia jalan menjaga agama utama.
Tak perlu memaksa manusia menyembah Tuhan Agung dengan kecerdikan dan kekerasan; mencari kemenangan duniawi semata hanya menjerumuskan pada kehancuran.
Paduka berasal dari keturunan luhur, penjaga kesucian dunia; kelak Kakangmas akan menyadari, dan hamba pun akan kembali.
Bila hamba enggan kembali ke kerajaan, hamba akan dipaksa menggunakan kesaktian; segala kemampuan telah diizinkan oleh raja.
Jangan ragu — perang harus dijalani, bercampur di medan laga; ingatlah teladan dahulu, Dananjaya Suryatmaja mencari kematian mulia.
Kita bersaudara, Paduka dan hamba; ingatlah kemuliaan bunga keturunan, ksatria sejati berwujud manusia, tak menyayangkan raga yang akan kembali ke tanah.
Sebab kemuliaan telah tercapai di negeri Ngastina, diangkat menjadi adipati; demikianlah jalan keturunan ksatria.
Tak lagi memperhitungkan siksa neraka di dunia maupun kelak; Adipati Karna telah memahami bahwa negeri Ngastina menuju kehancuran.
Hamba pun telah mengetahui tanda-tanda kerajaan dalam lontar Jayabaya, ajaran para resi dan pendeta yang bijaksana dan suci.
Telah masyhur kabar Majapahit akan runtuh; ayahanda Paduka akan menjadi raja terakhir; sebab hamba keturunan ksatria, hamba mengabdi segenap jiwa raga.
Meski tubuh hancur berkeping berjuta-juta, hamba tak mengharap hidup; menjaga dharma dan kasih demi kelestarian tubuh negara.
Hidup hina tanpa bakti adalah aib; malu bila mati tanpa arti; hidup semata hidup tak layak mendekati negara.
Bila anugerah benar mengalir bagai madu suci yang bening, hamba akan tetap setia; kelak pun hamba akan bersujud ke Bintara apabila Majapahit telah runtuh dan darah mengalir membanjiri bumi.
Tanpa dipanggil pun hamba akan datang, menghadap dengan kehendak sendiri, membawa senapan, pedang, dan tombak, serta mengibarkan bendera putih, tanda tunduk dalam perang, menyerahkan hidup dan mati.
Kembali lagi kepada Kakanganda, bagaimana sikap Kakanda? Dipanggil oleh Baginda Raja, apakah bersedia atau menolak? Jika Kakanda tidak bersedia menghadap, dalam waktu kira-kira dua hari, sepertinya keselamatan takkan ditemukan, malapetaka pasti datang.
Demikian surat ini ditulis, pada bulan Kasa, julungpujut taliwangke, mawulu surya sangkala, nyêmbah janma tri karna, bertanda Adipati Terung, Arya Pecattandha.
Mendapat balasan surat dari Adipati Terung Raden Timbal, adiknya, Adipati Bintara Raden Patah terdiam. Surat diserahkan kepada para wali. Termasuk pada Sunan Ampel dan Sunan Cirebon.
Kepada Raden Patah, Sunan Cirebon berkata: “Temuilah ia dalam perang”. [but]






