Jombang (beritajatim.com) – Di tengah kabar duka bagi para penggemar durian, sebuah keputusan penting harus diambil oleh Pemerintah Kabupaten Jombang: Kenduri Durian atau Kenduren Wonosalam 2026 resmi ditiadakan.
Keputusan ini bukanlah langkah yang mudah, namun justru menjadi simbol harapan akan masa depan yang lebih baik bagi petani durian dan tanah Wonosalam.
Hartono, Plt. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Jombang, menjelaskan bahwa penundaan Kenduren ini disebabkan oleh hasil panen durian yang tidak maksimal akibat cuaca ekstrem yang melanda Wonosalam.
“Keputusan ini diambil setelah rapat panjang dengan jajaran Forkopimcam dan para Kepala Desa se-Kecamatan Wonosalam beberapa Waktu lalu,” kata Hartono, Senin (23/2/2026).
Kenduren, yang telah menjadi tradisi tahunan sejak era Bupati Suyanto, biasanya digelar di puncak musim durian pada Januari atau Februari. Festival ini telah menjadi ajang perayaan panen durian yang melimpah, menyatukan ribuan pengunjung dari berbagai penjuru. Mereka berebut durian secara gratis.
Kenduren bukan sekadar acara, namun juga bentuk syukur atas hasil bumi yang melimpah. Namun, tahun ini, Wonosalam, yang dikenal dengan kebanggaannya— ribuan pohon durian—menghadapi kenyataan yang pahit.
Penyebab utama penurunan hasil panen adalah cuaca ekstrem yang membuat banyak buah durian rontok sebelum waktunya. Hasil panen tahun ini merosot hingga 60 sampai 70 persen, sebuah dampak yang langsung mempengaruhi kualitas dan kuantitas durian yang bisa dipanen.
Kenduren yang ditiadakan bukan hanya karena cuaca yang tak bersahabat, tetapi juga sebagai langkah cermat dari pemerintah daerah untuk menjaga kualitas durian Wonosalam yang telah dikenal istimewa.
Hartono menegaskan bahwa keputusan ini merupakan bagian dari komitmen untuk menjaga marwah Durian Wonosalam. “Kami memilih untuk tidak memaksakan perayaan. Menjaga kualitas durian jauh lebih penting daripada sekadar merayakan sebuah acara,” ujar Hartono dengan penuh keyakinan.
Keputusan ini bukan berarti menyerah pada keadaan. Sebaliknya, ini adalah investasi untuk masa depan. Dengan memberi waktu bagi pohon durian untuk pulih dan berbuah dengan lebih baik, diharapkan panen mendatang akan lebih berkualitas dan istimewa.
“Langkah yang kita ambil ini adalah untuk memastikan agar ekosistem pertanian durian di Wonosalam tetap terjaga dan berkembang dengan baik,” tambah Hartono.
Meski gunungan durian tahun ini tidak menghidupkan semangat di tengah masyarakat, Wonosalam tidak kehilangan optimisme. Sebaliknya, jeda ini dianggap sebagai kesempatan untuk “bernapas” sejenak dan memberi ruang bagi alam untuk pulih.
“Saya mengajak masyarakat untuk tetap optimis, mendoakan agar cuaca kembali bersahabat, dan agar para petani diberi kekuatan dan kesabaran,” seru Hartono.
Dengan keputusan ini, Wonosalam mengajarkan bahwa tak selamanya kemeriahan harus dirayakan dalam bentuk perayaan besar. Terkadang, jeda adalah cara alam untuk mengajak untuk merenung, memperbaiki diri, dan menyambut masa depan yang lebih gemilang.
Bumi Wonosalam, dengan segala keindahan alam dan kekayaannya, akan selalu menjadi rumah yang dirindukan oleh para pecinta durian. Dan tahun depan, saat musim durian kembali bergemuruh, Kenduren akan hadir lebih megah, dengan durian terbaik yang bisa dibanggakan. [suf]






