Banyuwangi (beritajatim.com) – Pengelola destinasi wisata pantai di Banyuwangi mengeluhkan sampah kiriman yang memenuhi kawasan pantai di Banyuwangi.
Sampah kiriman ini menjadi masalah rutin yang datang setiap musim hujan. Sehingga memerlukan penanganan bersama yang komprehensif.
Ketua Pokdarwis Pesona Bahari GWD, Abdul Azis mengatakan, sampah kiriman hampir datang setiap hari, khususnya pada musim hujan. Sehingga sampah kiriman ini menjadi masalah yang datang setiap musim hujan.
Diakui, sampah kiriman ini tidak hanya terjadi di wilayah GWD. Tetapi hampir di seluruh destinasi wisata pantai di Banyuwangi. Mulai dari wilayah Wongsorejo, Bangsring, Cacalan, Pantai Cemara, Pantai Bomo, hingga Gumuk Kantong.
“Setiap musim hujan pasti ada sampah kiriman, kalau musim kemarau tidak ada,” jelasnya.
Aziz menyebut, sampah kiriman itu berasal dari kawasan hulu. Karena materialnya didominasi kayu, bambu dan ranting pohon. Melihat material sampah kiriman tersebut, dia menduga ada indikasi kerusakan di kawasan hulu. Sehingga banyak kayu dan ranting yang terbawa ke laut.
Aziz menjelaskan, jumlah sampah kiriman ini selalu banyak. Sehingga cukup menyulitkan untuk proses pembersihan. Oleh karena itu, dia bersama seluruh anggota Pokdarwis setiap hari selalu membersihkan sampah yang mengotori pantai.
Hal tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi pantai tetap bersih dan pengunjung tetap nyaman saat berwisata.
“Selama ini langsung ditangani sehingga wisatawan tidak sampai tahu. Masalah ini tidak bisa diselesaikan secara personal. Hulu dan hilir harus bersama-sama kerja menanganinya,” tegasnya.
Lebih jauh Azis menambahkan, pantai-pantai yang banyak menjadi jujukan sampah kiriman dipengaruhi arah angin juga. Jika arah angin ke utara maka kawasan pantai di sisi utara akan lebih banyak menerima sampah kiriman.
“Jadi arah angin ini sangat mempengaruhi jumlah sampah kiriman datang,” tandasnya. [tar/ian]






