Yogyakarta (beritajatim.com)- Kasus kejahatan seksual yang melibatkan pemodal asal Amerika Serikat, Jeffrey Epstein, kembali menjadi sorotan publik internasional. Selama lebih dari dua dekade, aparat penegak hukum seperti Federal Bureau of Investigation dan United States Department of Justice menyelidiki dugaan jaringan eksploitasi dan perdagangan seksual anak yang menyeret namanya.
Publik kembali diguncang setelah dokumen-dokumen terkait kejahatan seksual sistemik itu dipublikasikan secara luas. Pengungkapan ini bukan hanya memicu perdebatan hukum, tetapi juga membuka kembali luka lama para korban.
Lalu, bagaimana sebenarnya dampak psikologis yang dialami korban kejahatan seksual sistemik seperti ini?
Trauma Tersembunyi: Korban Sering Tidak Sadar Sedang Dieksploitasi
Psikolog Klinis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., Psikolog, menjelaskan bahwa kejahatan seksual sistemik bekerja secara halus dan manipulatif.
Menurutnya, banyak korban terutama anak-anak tidak langsung menyadari bahwa mereka sedang menjadi target eksploitasi. Pelaku biasanya membangun relasi yang tampak “normal”, bahkan terkesan memberikan perhatian dan dukungan emosional.
“Awalnya anak tidak menyadari bahwa dirinya masuk dalam situasi kejahatan. Namun seiring waktu muncul rasa tidak berdaya, tekanan berkepanjangan, dan trauma mendalam,” jelasnya.
Tekanan psikologis yang berlangsung lama dapat membuat korban:
Kehilangan rasa harga diri
Meragukan identitas diri
Merasa tidak memiliki hak untuk bersuara
Mengalami kecemasan dan depresi berkepanjangan
Inilah yang menyebabkan banyak korban baru berani berbicara setelah bertahun-tahun.
Ketergantungan Emosional: Strategi Manipulatif Pelaku
Dalam banyak kasus, pelaku membangun ketergantungan emosional terhadap korban. Hubungan yang terbentuk sering kali membuat korban merasa dekat, bahkan takut kehilangan figur tersebut.
Kondisi ini menciptakan kebingungan batin. Korban merasa ada yang salah, tetapi sulit memahami dan mengartikulasikannya. Kesadaran bahwa mereka telah menjadi korban kekerasan biasanya muncul setelah korban mulai memahami kembali batasan diri dan identitas pribadinya.
“Ketika korban mulai mengenali kembali siapa dirinya dan apa batasan yang sehat, barulah mereka sadar bahwa perlakuan tersebut adalah bentuk kekerasan,” ungkap Gamayanti.
Trauma yang Tidak Ditangani Bisa Berulang
Dampak psikologis tidak berhenti pada rasa sakit masa lalu. Jika trauma tidak ditangani secara tepat, efeknya dapat membentuk pola perilaku yang kompleks saat korban dewasa.
Secara psikologis, pengalaman traumatis yang terpendam bisa terinternalisasi dalam alam bawah sadar. Dinamika ini bukan sekadar “meniru” perilaku pelaku, melainkan konflik batin yang tidak terselesaikan.
“Jika tidak mendapatkan pendampingan psikologis yang memadai, ada risiko pola perilaku tidak sehat muncul kembali ketika mereka dewasa. Ini yang perlu diwaspadai,” jelasnya.
Karena itu, intervensi komprehensif sangat penting untuk memutus rantai trauma.
Reviktimisasi: Luka Lama yang Terbuka Kembali
Pengungkapan kembali kasus di ruang publik juga dapat memicu kondisi yang disebut revictimization atau reviktimisasi.
Ketika peristiwa traumatis diangkat kembali, korban bisa merasa seolah-olah mengalami kejadian tersebut untuk kedua kalinya. Sensasi emosional, ketakutan, dan rasa sakit dapat muncul kembali secara intens.
Tidak semua korban siap menceritakan pengalaman mereka secara terbuka. Rasa malu, stigma sosial, hingga tekanan lingkungan bisa memperberat beban mental.
Meski demikian, pengungkapan kasus tetap penting untuk mencegah dampak yang lebih luas. Penanganan harus dilakukan secara bijak dan berperspektif korban, agar proses hukum tidak justru melukai mereka kembali.
Pentingnya Pendekatan Berperspektif Korban
Kasus seperti Jeffrey Epstein menunjukkan bahwa kejahatan seksual sistemik tidak hanya berdampak hukum, tetapi juga meninggalkan konsekuensi psikologis jangka panjang.
Pendekatan yang sensitif, pendampingan psikologis profesional, serta perlindungan identitas korban menjadi kunci dalam proses pemulihan. Tanpa itu, trauma bisa menjadi lingkaran yang sulit diputus.
Pengungkapan memang menyakitkan, tetapi pembiaran jauh lebih berbahaya. [aje]






