Nganjuk (beritajatim.com) – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 H, Lembaga Dakwah (LD) PWNU Jawa Timur bersinergi dengan berbagai elemen keumatan untuk menggelar Program Dai Bina Desa Aswaja An-Nahdliyah di wilayah MWC NU Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk.
Kegiatan yang dimulai pada Selasa (17/2/2026), bertepatan dengan 28 Sya’ban 1447 H, ini akan berlangsung hingga 10 Maret 2026 atau 20 Ramadan 1447 H.
Program ini, yang merupakan kali kedua diselenggarakan oleh LD PWNU Jatim, berfokus pada pengembangan syiar dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di wilayah pedesaan.
Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Dewan Masjid Indonesia Jawa Timur, LD PCNU Kabupaten Nganjuk, serta sejumlah perguruan tinggi dan pesantren berbasis Nahdlatul Ulama seperti Universitas Islam Malang (Unisma), Pesantren Lirboyo, Pesantren Tebuireng, Pesantren An Nur Bululawang, dan Pesantren Al Azhaar Tulungagung.
Koordinator Bidang Dai Bina Desa Aswaja An-Nahdliyah, KH. Imam Mawardi, mengungkapkan pentingnya program ini dalam menyebarkan dakwah yang penuh kesejukan dan kedamaian. “Ini menjadi bagian penting dalam mengembangkan dakwah yang rahmatan lil alamin yang penuh kesejukan, santun, dan damai,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Sekretaris Dewan Masjid Indonesia Jawa Timur, H. Suhadi, yang menegaskan bahwa pihaknya siap mendukung keberlanjutan program ini. “Kami mendukung kegiatan ini agar terus dilanjutkan. Ke depan akan kami coba fasilitasi karena selaras dengan program-program yang ada di DMI,” katanya.
Ketua PCNU Kabupaten Nganjuk, KH. Hasyim Affandi, menekankan pentingnya pendekatan intensif di wilayah Ngluyu yang tergolong daerah terpencil. “Ngluyu sebagai daerah terpencil di Kabupaten Nganjuk perlu pendekatan intensif, terutama dalam penanaman nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah serta peningkatan amaliah ibadah masyarakat,” pesannya.

Salah satu pengurus LD PWNU Jatim yang juga Wakil Ketua Yayasan Universitas Islam Malang, KH. Ali Ashari, menambahkan peserta program tidak hanya berasal dari kader Unisma, tetapi juga dari berbagai komunitas dai lainnya.
“Dalam kegiatan ini tidak hanya dai kader dari Unisma, tetapi juga kumpulan dai lain yang kami singkat Kuda. Ternyata ‘kudanya’ banyak, ada Kuda Ireng, Kuda Unisma, dan Bulukuda,” ujarnya berseloroh.
Ketua LD PWNU Jawa Timur, KH. M. Syukron Djazilan, dalam pesannya menegaskan bahwa dakwah memerlukan kolaborasi dan keteladanan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. “Zaman Nabi, berdakwah tidak langsung banyak, tetapi penuh rahmah. Tidak memukul, tetapi merangkul dengan kesabaran. Orang yang berdakwah insya Allah akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT,” tuturnya.
Di tingkat lokal, Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Ngluyu, Kiai Roji, menyampaikan bahwa kondisi sosial masyarakat cukup beragam, bahkan terdapat desa yang jauh dari jangkauan sinyal komunikasi. “Dibutuhkan mental yang kuat dalam berdakwah di wilayah seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Ngluyu, Sanusi, dalam sambutannya memperkenalkan kearifan lokal setempat, termasuk larangan penggunaan motif batik parang di wilayah tersebut. “Ngluyu adalah wilayah ujung utara Kabupaten Nganjuk. Di sini ada larangan menggunakan batik parang, baik dalam bentuk sarung, baju, maupun bungkus kado. Larangan ini tidak boleh ditawar,” tegasnya. [suf]






