Malang (beritajatim.com) – Darmadi S.Sos terpilih sebagai Ketua KONI Kabupaten Malang pergantian antar waktu (PAW) Tahun 2026-2028. Dalam Musorkablub KONI, Sabtu (14/2/2026), Darmadi memperoleh 40 suara. Sementara rivalnya, Zia Ulhaq meraih 19 suara.
Menanggapi hal itu, Zia dengan legawa mengucapkan selamat kepada Darmadi. “Selamat buat pak Darmadi. Mohon maaf pada masyarakat jika kami sempat emosi hingga naik meja. Kami naik meja karena pimpinan rapat dalam Musorkablub KONI tidak fair. Pimpinan rapat, berat sebelah. Dan itu sudah terindikasi sejak awal,” tegas Zia.
Sebagai informasi, Darmadi saat ini masih menjabat Ketua DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi PDI Perjuangan. Sementara Zia Ulhaq, menjabat Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang. Zia juga merangkap sebagai Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD setempat.
Musorkablub terjadi usai Ketua KONI Kabupaten Malang, Rosyidin, mengundurkan diri pada akhir Desember 2025 lalu. Penyebabnya, Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang kini mengobok-obok Dana Hibah KONI senilai miliaran rupiah pada tahun anggaran 2022-2023.
Lebih dari 84 pengurus KONI dan seluruh cabor di Kabupaten Malang diperiksa Kejaksaan sebagai saksi. Kantor Dispora Kabupaten Malang juga turut digeledah Kejaksaan. Belum ada penetapan tersangka. Dugaan kerugian keuangan negara masih ditelaah.
Musyawarah Olahraga Luar Biasa KONI Kabupaten Malang hari ini dihadiri seluruh pengurus KONI dan 69 cabang olahraga. Rapat tersebut dipimpin oleh Siswarno Mulyadi MPd. Dalam kepengurusan KONI, Mulyadi menjabat Wakil Ketua 2.
Selama berjalannya sidang, Mulyadi terkesan kurang tegas memimpin jalannya Musorkablub. Melihat hal itu, Zia pun menuding pimpinan rapat berat sebelah. Tidak fair. Dan terindikasi menggiring musyawarah agar forum memilih Darmadi secara aklamasi.
Tanda-tanda tersebut membuat pendukung Zia protes. Termasuk cara-cara unik yang menginginkan Darmadi jadi Ketua KONI, peserta forum diminta hanya angkat tangan. Sehingga, aklamasi terjadi.
Karena proses pemilihan Ketua KONI dianggap tak lazim dan jauh dari demokrasi, pendukung Zia turut interupsi. Debat panas tersaji. Suara keras bersahutan. Zia dengan microphone menyala, menuding pimpinan rapat mendukung salah satu calon. Ia naik meja. Menunjuk pengurus cabor yang tidak menjalankan proses demokrasi semestinya dengan suara lantang.
“Ya kami mohon maaf karena terbawa emosi. Tadinya kami pihak KONI independen. Kami berharap fair play. Tapi kenyataannya, panitia dan pimpinan sidang berat sebelah,” tegas Zia.
Zia mengungkapkan, selama proses persidangan, KONI tidak fair. Mengarahkan cabor memihak salah satu calon agar terjadi aklamasi. Sehingga, hal ini tidak bisa dibenarkan.
“KONI menggiring agar terjadi aklamasi, ini yang sangat kami sesalkan. Dalam deadlock setelah insiden saya naik meja, kami minta agar pimpinan sidang (Siswarno Mulyadi MPd-red) diganti. Tapi pak Darmadi tidak bersedia. Sehingga sempat terjadi debat panjang tadi. Tapi kami sampaikan sekali lagi, selamat pada pak Darmadi. Mohon maaf apabila kami sempat emosi hingga naik meja,” tutur Zia.
Zia menguraikan, pilihan sekelas Ketua KONI harusnya dipilih langsung secara tertutup. Dalam musyawarah olahraga, seseorang punya hak untuk memilih dan dipilih, tidak kemudian digiring untuk aklamasi.
“Saya protes karena pimpinan sidang mengarahkan aklamasi, sementara forum menginginkan pemilihan tertutup. Sehingga saya refleks dan emosi hingga naik meja. Dengan saya naik meja ini, panitia ternyata mendengarkan aspirasi kami. Dan dalam persidangan dinamika naik kursi, naik meja, lempar mic adalah dinamika dalam satu musyawarah,” bebernya.
Menurutnya, proses musyawarah pemilihan Ketua KONI harusnya dilakukan secara demokratis. Ada bilik suara. Meskipun jumlah pemilih tidak banyak, berapapun keputusan dan hasilnya bisa diterima.
“Kalau dengan deadlock dan mengarahkan aklamasi ini kan berarti kita belum bermusyawarah. Seandainya pimpinan sidang memahami arti demokrasi, nggak mungkin ada insiden naik meja, teriak-teriak. Dari awal panitia di KONI ini memihak sebelah. Itulah yang kami sayangkan. Padahal kita sudah paparkan visi misi, saya sudah menyampaikan program, ternyata mau dianulir dengan aklamasi. Kalau begitu caranya kenapa tidak dari awal saja,” sesal Zia mengakhiri. (yog/kun)






