Pasuruan (beritajatim.com) – Sektor retribusi pasar di Kabupaten Pasuruan tengah menghadapi tantangan berat akibat sepinya aktivitas jual beli di lapak fisik. Kondisi ini memicu kegagalan pencapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari belasan pasar yang dikelola pemerintah setempat selama dua periode berturut-turut.
Data terbaru menunjukkan bahwa realisasi pendapatan pada tahun 2024 hanya menyentuh angka 91,37 persen dari target awal Rp 5,7 miliar. Tren penurunan tersebut berlanjut hingga tahun 2025 dengan capaian yang semakin merosot ke angka 90,37 persen saja.
Kepala Bidang Perdagangan Diskoperindag Kabupaten Pasuruan, Riswahyudi, membenarkan adanya pergeseran perilaku konsumen yang kini lebih gemar bertransaksi secara daring. “Perubahan pola belanja ke online sangat berpengaruh karena banyak pedagang kios akhirnya tidak aktif,” ungkap Riswahyudi.
Fenomena ini mengakibatkan banyak penyewa kios di pasar tradisional memilih untuk gulung tikar akibat omzet yang turun tajam. Kosongnya sejumlah petak dagangan secara otomatis memangkas potensi tarikan retribusi harian yang menjadi sumber pemasukan daerah.
Riswahyudi menambahkan bahwa pedagang konvensional saat ini sulit mengimbangi kecepatan dan kemudahan yang ditawarkan oleh platform pasar digital. “Banyak pedagang pasar yang tidak bisa bertahan lagi dengan persaingan pasar online,” jelasnya saat memaparkan kondisi lapangan.
Meskipun situasi sedang sulit, pemerintah daerah tetap berkomitmen melakukan revitalisasi sarana prasarana guna meningkatkan kenyamanan pengunjung. Program penataan ulang pedagang dan peningkatan fasilitas pasar terus dilakukan agar daya tarik pasar tradisional tidak sepenuhnya hilang.
Diskoperindag juga mulai merancang program pembinaan agar para pedagang pasar mulai melek teknologi dan bisa berjualan di marketplace. Adaptasi pemasaran digital dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar agar ekosistem pasar rakyat tetap relevan dengan zaman.
Langkah strategis ini diharapkan mampu mendongkrak kembali minat masyarakat untuk berbelanja langsung ke pasar-pasar di wilayah Pasuruan. “Kami terus mencari formulasi agar pasar tradisional tetap diminati,” tutup Riswahyudi optimis. (ada/but)






