Surabaya (beritajatim.com) – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa patroli gabungan terhadap juru parkir (jukir) liar di seluruh wilayah Kota Pahlawan akan terus dilakukan secara intensif mulai Sabtu (7/2/2026). Langkah tegas ini diambil untuk menjamin kenyamanan warga sekaligus memastikan transisi sistem parkir digital di Tepi Jalan Umum (TJU) berjalan tanpa hambatan premanisme.
Operasi penertiban ini melibatkan kolaborasi lintas instansi yang terdiri dari Satgas Anti Premanisme, Kepolisian, serta jajaran TNI (Dandim). Pemkot Surabaya berkomitmen melakukan tindakan tanpa pandang bulu terhadap oknum yang memungut biaya parkir secara ilegal atau tidak sesuai prosedur resmi pemerintah.
“Kami (Pemkot) tetap akan melakukan tindakan kepada jukir liar, kerja sama dengan Satgas Anti Premanisme, dengan Kepolisian, dengan Dandim, kita akan melakukan terus kegiatan (patroli) untuk menjaga Surabaya dari jukir liar,” ujar Wali Kota Eri Cahyadi pada Sabtu (7/2/2026).
Eri menjelaskan, parameter jukir resmi sangat jelas bagi masyarakat, yakni wajib memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) serta mengenakan rompi petugas yang diterbitkan oleh Dinas Perhubungan. Setiap oknum yang kedapatan beroperasi tanpa atribut lengkap tersebut akan langsung diamankan di tempat oleh petugas gabungan.
Para jukir liar yang terjaring dipastikan bakal menghadapi konsekuensi hukum serius, mulai dari evaluasi internal jika mereka merupakan mitra yang melanggar aturan, hingga sanksi tindak pidana ringan (tipiring). Hal ini dilakukan untuk memberikan efek jera terhadap praktik pungutan liar yang meresahkan masyarakat.
“Yang tidak memiliki KTA, tidak memiliki rompi, pasti kita akan lakukan evaluasi dan kita tangkap,” tegas Eri.
Pengetatan pengawasan ini beriringan dengan misi besar Pemerintah Kota Surabaya untuk melakukan digitalisasi layanan publik secara menyeluruh. Eri Cahyadi menargetkan bahwa seluruh titik parkir di TJU akan sepenuhnya menggunakan sistem pembayaran non-tunai sebelum memasuki bulan Maret mendatang.
Eri optimis bahwa dengan hilangnya jukir liar dan diterapkannya sistem digital, kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dapat ditekan secara signifikan. Target realisasi ini menjadi bagian dari upaya Surabaya dalam mentransformasi wajah transportasi dan layanan jalan umum yang lebih modern dan transparan.
“Parkir non tunai akan terus berjalan, dan di akhir Februari ini maka semua titik (TJU) akan menjadi non tunai,” pungkasnya. [rma/ian]







11 Komentar
pak Eri,parkir di jl.Karimun Jawa,RS.Siloam perlu di buat parkir digital,jgn ada preman preman dr pulau sebrang
betul
jgn panas panas T A🐔🐤🦅🦆
jangan kasih kendor Pak Eri…Semangat perjuang kan trus pemberantasan parkir parkir liar yg ada khususnya dikota Surabaya
betul
bagus cak, ojok kalah ambek preman jukir ilegal jukir luar
Surabaya biar ramah,ndk serem
Harusnya ada dan disosialisasikan ke masyarakat wadah untuk melaporkan jukir liar, lalu respon dengan tindakan kongkrit, sehingga hasilnya terasa oleh masyarakat.
kalau himbauan melulu, wacana melulu, kapan masyarakat percaya?
di warung-warung, toko -toko , restoan-restoran, masih sangat banyak jukir liar.
nggak ada perubahan signifikan sejak awal pelarangan, bahkan terkesan semakin banyak saja jukir liar.
siapkan pekerjaan padat karya untuk jukir liar yang tertangkap, diawasi tentara. karena mereka tidak takut polisi dan satpol PP.
PELAKUNE WONG LUAR PULO.
NGGARAI RUSUH
Ayo Cak!ojok cuma gebrakan ilangno jukir liar, pelakune roto” wong luar pulo.Kwatire mbalek mane.
bubarkan parkir mini market.