Ponorogo (beritajatim.com) – Gempa bumi yang berpusat di laut selatan Pacitan memicu kerusakan bangunan di sejumlah titik wilayah Kabupaten Ponorogo pada Sabtu (7/2/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan rumah milik Paniyem (64) di Kelurahan Surodikraman mengalami kerusakan paling parah hingga dapur dan kamar tidurnya roboh.
Kalaksa BPBD Ponorogo, Masun, menjelaskan bahwa struktur bangunan di titik Surodikraman sudah tidak layak huni dan sangat membahayakan keselamatan warga. Akibat guncangan yang kuat, struktur dapur serta kamar mandi di rumah tersebut ambruk seketika sehingga pemilik harus segera diungsikan ke rumah kerabat.
“Kondisinya darurat dan paling parah daripada titik-titik lainnya,” kata Masun saat memberikan keterangan resmi di lokasi terdampak. Secara total, tercatat empat unit rumah dan satu gudang mengalami kerusakan berat, selain satu unit masjid yang turut terdampak guncangan di wilayah tersebut.
Kerusakan dilaporkan tersebar secara sporadis di lima lokasi berbeda yang mencakup wilayah perkotaan hingga perdesaan di Kabupaten Ponorogo. Di Dukuh Banyon, Desa Nglewan, Kecamatan Sambit, sebuah rumah warga hancur pada bagian dapur sementara atap kamar mandinya runtuh total.
Sebuah gudang penyimpanan di Desa Bogem, Kecamatan Sampung, juga dilaporkan ambruk setelah rangka atap dan material asbes tidak kuat menahan getaran. Sementara itu, di Desa Gombang, Kecamatan Slahung, dua unit rumah warga mengalami keretakan serius pada bagian dinding dan ruang tidur utama.
“Sedangkan di Kelurahan Singosaren, Kecamatan Jenangan, masjid dilaporkan mengalami kerusakan ringan berupa genteng jatuh,” jelas Masun mengenai sebaran dampak gempa. Getaran gempa ini dirasakan oleh warga Ponorogo dengan intensitas III MMI yang membuat benda-benda bergoyang dan jendela bergetar nyata.
BPBD Ponorogo segera merespons kejadian tersebut dengan melakukan asesmen lapangan serta pembersihan puing-puing bangunan bersama warga sekitar. Tim reaksi cepat juga menyalurkan bantuan logistik darurat mulai dari sandang, perlengkapan kebersihan, hingga peralatan rumah tangga dasar bagi para korban terdampak.
Bagi bangunan yang masuk kategori rusak berat, pihak pemerintah daerah tengah mengusulkan penyediaan hunian sementara bagi para pemilik rumah. Langkah strategis ini diambil agar hak dasar warga terdampak tetap terpenuhi selama proses pemulihan infrastruktur pascabencana berlangsung secara bertahap.
“Untuk rumah yang rusak berat dan membahayakan, kami usulkan pemenuhan hunian sementara agar hak dasar warga tetap terpenuhi,” tambahnya mengenai skema bantuan lanjutan. Hingga saat ini, petugas masih menyisir potensi bahaya susulan di berbagai wilayah guna memastikan validitas data kerusakan di seluruh kecamatan.
Warga diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan mandiri terutama terhadap potensi munculnya gempa susulan yang bisa memicu kerusakan lebih luas pada bangunan. Pemeriksaan struktur bangunan secara teliti sangat disarankan bagi masyarakat yang merasakan guncangan kuat guna menghindari risiko kecelakaan fisik akibat reruntuhan material. [end/beq]






