Magetan (beritajatim.com) – Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan (DLHP) Kabupaten Magetan terus memantau penyediaan serta serapan bahan pangan lokal, khususnya sayuran, yang disuplai ke Badan Gizi Nasional (BGN) dan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala Bidang Pangan DLHP Magetan, Awang Arifaini Rudin, mengakui aspirasi petani sayur terkait penyerapan produk lokal memang sudah sampai ke pihaknya. Namun, data detail serapan secara akurat masih dalam proses pendalaman.
“Kami memantau terus penyediaan pangan dan serapan bahan pangan. Secara data akurat memang belum kami miliki, tapi dari pantauan di lapangan, sudah banyak petani, baik perorangan maupun kelompok, termasuk peternak, yang menyuplai ke BGN dan dapur SPPG,” ujarnya, Kamis (5/2/2026)
Awang menjelaskan, pola distribusi bahan pangan ke SPPG sebagian besar dilakukan melalui supplier, bukan langsung dari petani. Hal ini berkaitan dengan standar kualitas ketat yang diterapkan SPPG.
“SPPG menerapkan standar kualitas. Bahan pangan yang diambil bukan seperti beli di pasar langsung. Contohnya bawang sudah diiris, ikan lele sudah bersih tanpa kepala dan kotoran, bahkan daging ayam ada yang sudah dalam bentuk fillet,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat tidak semua petani mampu memenuhi standar teknis secara mandiri. Karena itu, BGN kerap merekomendasikan penggunaan supplier sebagai penghubung.
“Akhirnya petani masuk lewat supplier. Ini tidak masalah dan justru bagus, yang penting bahan pangan itu bersumber dari pasar lokal. Di supplier juga ada proses kebersihan yang menciptakan lapangan kerja baru,” tambahnya.
Untuk memastikan seluruh bahan pangan benar-benar berasal dari Magetan, DLHP berencana menggelar rapat koordinasi lanjutan dengan melibatkan pengelola SPPG dan yayasan terkait.
“Kami akan mengundang mitra, pengelola SPPG, dan yayasan. Kami tekankan bahwa bahan pangan yang dibutuhkan ada di Magetan dan bisa diproduksi di Magetan, sehingga kalau bisa jangan mendatangkan dari luar daerah,” tegas Awang.
Ia menyebut, komoditas seperti sayuran, bawang merah, telur, ikan nila, hingga daging ayam sejauh ini mayoritas sudah dipasok dari pasar lokal, meski jalurnya masih melalui supplier.
“Memang tidak langsung ke peternak, tapi lewat supplier. Supplier-nya pun kebanyakan warga Magetan juga. Nanti akan kami laporkan lagi setelah data pasti terkumpul, bahan-bahan ini berasal dari mana saja,” katanya.
Terkait jumlah layanan SPPG, Awang menyampaikan saat ini sekitar 50 SPPG sudah beroperasi di Magetan. Namun, belum seluruh titik sasaran terlayani.
“Kalau sudah terlayani semua, totalnya ada 84 titik. Sekarang tinggal sedikit yang belum. Nanti kalau ada SPPG baru, pembagiannya akan disesuaikan lagi,” pungkasnya. [fiq/aje]






