Jakarta (beritajatim.com) – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil meningkatkan produksi minyak sebesar 2.000 barel per hari (bph) dari dua sumur High Pour Point Oil (HPPO) di Lapangan Handil, Kalimantan Timur. Pencapaian ini melampaui perkiraan awal dalam Work Program & Budget (WP&B) 2026 yang sebelumnya hanya diproyeksikan sebesar 400 bph.
Tambahan signifikan ini meningkatkan total kontribusi produksi dari kategori sumur HPPO di wilayah operasi PHM menjadi 3.000 bph. Jumlah tersebut sudah mencakup produksi dari satu sumur di Lapangan Tambora yang telah beroperasi secara konsisten sejak tahun 2024.
Karakteristik kedua sumur HPPO di Lapangan Handil tergolong sangat unik karena memiliki titik tuang (pour point) minyak yang tinggi. Kondisi ini berada di atas temperatur operasi pipa sebesar 25 derajat celcius sehingga memerlukan penanganan teknis yang sangat spesifik.
Tanpa penanganan khusus, minyak mentah tersebut berisiko menjadi padat dan dapat menghambat aliran pada pipa produksi secara permanen. Hal ini menjadi tantangan teknis utama yang berhasil dipecahkan oleh tim engineer PHM demi menjaga kelancaran operasional di lapangan.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menyatakan bahwa keberhasilan memproduksikan sumur dengan tantangan operasional kompleks adalah bukti kompetensi perusahaan. Pengalaman ini terus diasah melalui pengelolaan berbagai sumur dengan karakteristik yang semakin sulit di Blok Mahakam.
Sebelumnya, PHM juga telah sukses mengoperasikan 17 sumur minyak beremulsi dengan memanfaatkan fasilitas yang tersebar di beberapa lapangan gas utama. Secara kumulatif, inovasi tersebut menghasilkan tambahan produksi hingga 5.200 bph berdasarkan pengukuran akurat di kepala sumur.
“Kami meyakini bahwa keberlanjutan operasi dan bisnis merupakan kunci dalam mendukung kebijakan transisi energi Pertamina, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian target produksi nasional sebesar 1 juta barel minyak dan 12 miliar standar kaki kubik gas pada tahun 2029 atau lebih cepat,” tegas Setyo.
Keberhasilan pengembangan sumur HPPO dan sumur beremulsi ini menegaskan komitmen PHM untuk terus berinovasi di tengah kondisi lapangan yang sudah matang (mature). Perusahaan mengawali tahun 2026 dengan catatan rata-rata produksi minyak mencapai angka 25 ribu bph.
Angka produksi tersebut tercatat sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan dengan target WP&B yang telah ditetapkan oleh Pemerintah sebelumnya. Hal ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan energi nasional di tengah upaya optimalisasi sumur-sumur minyak yang menantang.
Senior Manager Production PHM, Robert Roy Antoni, menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan chemical treatment berupa Pour Point Depressant (PPD) secara intensif. Teknologi ini mampu menurunkan titik tuang minyak secara signifikan hingga mencapai angka 21 derajat celcius.
Robert menambahkan bahwa Blok Mahakam merupakan lapangan tua dengan karakteristik sumur yang menuntut solusi teknologi yang selalu diperbarui. Meskipun kompleksitas teknis terus meningkat, komitmen perusahaan untuk mencari solusi operasional terbaik tetap menjadi prioritas utama.
“Namun, hal tersebut tidak menyurutkan komitmen kami untuk terus mencari solusi agar sumur-sumur challenging, atau sumur yang memiliki kompleksitas tinggi dan sebelumnya belum tersentuh, dapat diproduksikan secara optimal,” kata Robert menjelaskan strategi PHM ke depan. [hen/beq]






