Malang (beritajatim.com) – Rentetan kasus tragis percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa belakangan ini memicu alarm waspada bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Fenomena ini tidak hanya dipandang sebagai tragedi personal, namun mencerminkan kompleksitas kesehatan mental yang menghantui mahasiswa, terutama mereka yang menyandang status sebagai perantau.
Menanggapi isu ini, Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, membedah faktor mendalam yang menyebabkan mahasiswa rantau berada dalam posisi rentan.
Dr. Cahyaning, yang akrab disapa Naning, menjelaskan bahwa transisi dari rumah ke lingkungan baru merupakan fase kritis. Mahasiswa rantau secara alamiah harus menghadapi tantangan adaptasi yang masif tanpa kehadiran fisik orang tua sebagai sistem pendukung utama.
“Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka jauh dari lingkungan yang biasa mereka tempati. Risiko gangguan psikologis akan meningkat drastis jika kemampuan adaptasi mereka rendah dan tidak didukung oleh lingkungan sosial yang kuat di perantauan,” ujar Naning saat memberikan keterangan resmi pada Kamis (29/1/2026).
Satu temuan menarik yang diungkapkan Naning dari ruang konseling adalah bahwa tekanan akademik, seperti skripsi atau tugas kuliah, seringkali bukan penyebab utama. Masalah pendidikan biasanya hanya menjadi pemicu terakhir dari tumpukan beban emosional yang sudah dibawa dari rumah.
Naning menyoroti pentingnya ketahanan keluarga (family resilience). Banyak mahasiswa yang kesulitan karena tidak dibekali mental pejuang sejak dini.
“Tekanan akademik itu sebenarnya wajar dan perlu agar mahasiswa bisa fokus. Namun, landasan utamanya adalah seberapa kuat ketahanan mental seseorang dalam menghadapi ketidakenakan hidup. Tanpa resiliensi, mereka akan terjebak dalam pola pikir sempit saat menghadapi masalah,” tambahnya.
Terkait fenomena mahasiswa yang kerap memilih lokasi yang sama untuk melakukan aksi nekat, Naning menyebut hal tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sedang terdesak. Paparan informasi atau pemberitaan mengenai kejadian sebelumnya dapat membentuk persepsi di benak mahasiswa yang sedang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan.
Guna menekan angka kasus serupa, BK UMM menerapkan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan. Mahasiswa diajak mengenali potensi diri agar tidak merasa buntu. Selain bantuan profesional, Naning menyarankan pengembangan coping mechanism atau cara melepas emosi negatif secara sehat.
Beberapa langkah sederhana namun efektif untuk mereduksi stres antara lain, berolahraga secara rutin, mendengarkan musik yang menenangkan, melakukan hobi atau aktivitas yang disukai, dan menikmati makanan favorit dengan penuh penghayatan (mindful eating).
Di sisi lain, teman sebaya dan lingkungan kos memegang peranan sebagai garda terdepan. Naning mengingatkan agar setiap individu belajar menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi.
“Mendengarkan tanpa mencemooh dan menjaga rahasia adalah kunci. Jangan pernah menyepelekan masalah orang lain atau membocorkan cerita pribadi mereka, karena itu bisa memperburuk kondisi psikologis seseorang,” tegasnya menutup. (dan/but)
—————————-
Jika Kamu butuh bantuan konsultasi untuk mengatasi masalah depresi atau Kamu melihat orang yang ingin melakukan aksi bunuh diri bisa menghubungi nomor darurat Kementerian Kesehatan di 119.






