Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berencana mengembangkan ekosistem layanan becak listrik berbasis aplikasi online, menyusul beroperasinya becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto yang telah diterima para pengemudi becak.
Operasional becak listrik tersebut tidak hanya diarahkan sebagai moda transportasi ramah lingkungan, tetapi juga disiapkan agar lebih modern dan terintegrasi secara digital. Saat ini, Dinas Perhubungan (Dishub) Banyuwangi mulai merancang sistem pendukung bagi 200 unit becak listrik yang telah diserahkan kepada para pengemudi becak lansia.
Sistem yang disiapkan meliputi pendataan terpusat, pemetaan pangkalan becak, hingga peluang integrasi dengan platform daring. Kepala Dishub Banyuwangi, Komang Sudira Atmaja, mengatakan langkah awal yang dilakukan adalah menyinkronkan data penerima becak listrik bersama Gerakan Solidaritas Nusantara (GSN) selaku penyalur bantuan.
“Basis data ini penting karena akan menjadi fondasi pembinaan, termasuk jika nanti dikembangkan ke sistem online,” ujar Komang.
Ia menjelaskan, seluruh pengemudi becak listrik ke depan akan dihimpun dalam satu paguyuban resmi. Selain memudahkan koordinasi, paguyuban tersebut juga akan menjadi pintu masuk pembahasan teknis apabila layanan becak listrik diintegrasikan dengan aplikasi pemesanan penumpang.
Dishub Banyuwangi juga mulai memetakan lokasi mangkal para pengemudi becak listrik. Pangkalan tersebut tidak hanya difungsikan sebagai titik operasional, tetapi juga disiapkan sebagai lokasi pengisian daya baterai. Salah satu titik yang telah terdata berada di kawasan Pasar Rogojampi.
Untuk mendukung hal itu, Dishub berencana berkoordinasi dengan Dinas Koperasi agar fasilitas koperasi setempat dapat dimanfaatkan sebagai stasiun pengisian daya. Ke depan, konsep pangkalan becak listrik ditargetkan menyebar hingga tingkat kecamatan, termasuk di kawasan strategis seperti stasiun dan fasilitas publik milik pemerintah daerah.
“Kalau sudah tertata, akan lebih mudah ketika masuk ke sistem aplikasi. Driver jelas, pangkalan jelas, dan lokasi pengisian daya juga jelas,” jelas Komang.
Terkait rencana integrasi aplikasi online, Dishub membuka peluang kerja sama dengan operator layanan daring. Namun demikian, skema tarif menjadi tantangan tersendiri karena harus disesuaikan dengan karakteristik becak listrik serta kondisi pengemudi yang mayoritas lansia.
“Tarif online biasanya berbasis jarak. Ini perlu kesepakatan bersama paguyuban agar tidak memberatkan pengemudi,” ungkapnya.
Selain aspek digital, Dishub Banyuwangi juga menyiapkan koordinasi dengan Satlantas Polresta Banyuwangi untuk memastikan standar keselamatan serta regulasi operasional becak listrik sebagai angkutan penumpang.
“Keselamatan tetap menjadi prioritas. Semua tahapan akan kami siapkan secara bertahap,” pungkas Komang. [ayu/but]






