Surabaya (beritajatim.com) – Penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali menyerang hewan ternak di Jawa Timur. Hingga 26 Januari, tercatat sebanyak 839 kasus PMK terjadi di Jatim.
Dari jumlah kasus yang terdeteksi, yang baru berhasil disembuhkan baru 221 sapi. Sedangkan 605 ekor berstatus sakit dan dalam penanganan intensif serta 8 sapi lainnya mati akibat PMK. Untuk sapi yang dipotong paksa ada 5 ekor.
“Memang pada bulan Januari 2026 ada peningkatan kasus PMK, kebanyakan terjadi pada sapi pedaging. Ini mungkin pergerakan sapi mulai meningkat menghadapi Hari Raya Kurban. Apalagi musim saat ini sangat rawan musim penyebaran PMK. Dirjen PKH sudah mengalokasikan 1,51 juta dosis vaksin untuk di Jatim. Besok, sebanyak 453 ribu vaksin Insya Allah akan sampai dan segera didistribusikan. Itu untuk pecegahan. Yang sudah terpapar PMK, langsung diobati, karena sudah obat tersedia sejak November 2025,” tegas Wagub Jatim, Emil Elestianto Dardak usai membuka acara Rakerwil IPHI Jatim, Selasa (27/1/2026).
Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, drh Iswahyudi menambahkan, virus PMK tersebar pada 19 kabupaten/kota di Jawa Timur. Dan, Kabupaten Pasuruan menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, yakni 103 ekor sapi terpapar.
Tingginya kasus di wilayah tersebut tak lepas dari padatnya populasi ternak serta mobilitas hewan yang relatif tinggi. Terutama menjelang aktivitas perdagangan ternak di pasar-pasar hewan.
Pihaknya menelusuri pemicu utama merebaknya PMK berasal dari kombinasi beberapa faktor. Di antaranya, kondisi kandang yang kurang bersih, ternak yang belum mendapatkan vaksinasi anti PMK, serta faktor musim hujan.
Yakni, curah hujan yang tinggi menyebabkan kandang menjadi lembap. Sehingga ternak lebih mudah mengalami stres. Kondisi itu membuat daya tahan tubuh hewan menurun dan virus PMK lebih cepat menular ke ternak lain.
“Lingkungan kandang yang lembap dan tidak higienis menjadi media ideal bagi penyebaran virus. Ketika ternak stres, penularan berlangsung lebih cepat,” kata Iswahyudi.
Menghadapi kondisi tersebut, pihaknya mengintensifkan langkah penanganan di lapangan. Salah satu upaya utama adalah penyebaran obat-obatan untuk pengobatan PMK ke seluruh kabupaten dan kota. Selain itu, petugas kesehatan hewan juga diterjunkan ke seluruh pasar hewan untuk melakukan pemantauan ketat, sekaligus mencegah penularan melalui lalu lintas ternak.
Tak hanya di pasar, pemeriksaan ternak sebelum masuk rumah potong hewan (RPH) juga diperketat. Setiap hewan yang menunjukkan gejala PMK tidak diperkenankan dipotong dan langsung diarahkan untuk mendapatkan penanganan medis. Langkah itu dinilai penting untuk memutus rantai penularan sekaligus menjaga keamanan produk hewan yang dikonsumsi masyarakat.
Kemudian di tingkat peternak, Iswahyudi mendorong pembersihan kandang secara rutin melalui penyemprotan disinfektan. Terutama di wilayah dengan kasus aktif. Edukasi kepada peternak juga diperkuat agar kebersihan kandang menjadi perhatian utama.
“Tetapi kami masih menghadapi tantangan pada ketersediaan vaksin anti PMK. Tahun ini, Jatim membutuhkan sekitar 5 juta dosis vaksin untuk melindungi populasi ternak. Namun, vaksin yang tersedia baru 1,5 juta vaksin,” ujarnya. [tok/beq]







