Ponorogo (beritajatim.com) — Kondisi jenazah Nuraini (55), janda asal Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, menunjukkan tanda-tanda kematian yang diperkirakan telah berlangsung lebih dari satu hari.
Saat diterima di RSUD dr. Harjono Ponorogo, tubuh korban dilaporkan sudah mulai lebam, dengan sejumlah luka di beberapa bagian.
Usai ditemukan warga dan kepolisian di dalam rumahnya, jenazah korban dibawa dan disimpan di ruang pemulasaraan RSUD dr. Harjono sebelum dilakukan proses otopsi oleh tim forensik. Humas RSUD dr. Harjono Ponorogo, Sugianto, menyebut korban tiba di rumah sakit sekitar pukul 08.00 WIB dalam kondisi yang sudah mengalami perubahan fisik signifikan.
“Jadi jenazah diterima di RSUD Harjono sekitar jam 8-an pagi,” kata Sugianto, Senin (26/1/2026).
Sugianto menyebut bahwa pihaknya melihat tubuh korban sebagian sudah dalam keadaan lebam. Indikasi lebam pada tubuh korban tersebut, menjadi petunjuk penting dalam memperkirakan waktu kematian. Selain lebam, terdapat luka di area kepala, leher sebelah kiri, kedua tangan, serta paha kanan. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa korban telah meninggal cukup lama sebelum ditemukan warga.
“Sebagian sudah ada lebam di kulitnya, ya itu diperkirakan korban sudah meninggal lebih dari 1 hari,” katanya.
Kematian Nuraini kini ditangani oleh Satreskrim Polres Ponorogo, yang melibatkan Tim Forensik RS Bhayangkara Kediri untuk melakukan otopsi guna memastikan penyebab pasti kematian.
Sayangnya, usai otopsi selesai, tim forensik enggan untuk diwawancari terkait, hasil sementara otopsi. Kasat Reskrim Polres Ponorogo, AKP Imam Mujali, menegaskan bahwa hasil forensik akan menjadi dasar utama dalam menentukan arah penyelidikan, terutama untuk memastikan ada atau tidaknya unsur kekerasan.
“Otopsi dilakukan untuk memastikan penyebab kematian secara medis, sehingga penyelidikan bisa didasarkan pada hasil forensik yang objektif,” kata AKP Imam Mujali. (end/ted)






