Bojonegoro (beritajatim.com) – Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke ruas jalan nasional di wilayah Kecamatan Baureno guna merespons keluhan warga terkait kerusakan aspal yang membahayakan. Langkah responsif ini diambil menyusul tingginya angka kecelakaan lalu lintas di jalur padat yang menghubungkan Bojonegoro dan Babat tersebut.
Dalam peninjauan lapangan yang dilakukan pada Sabtu (24/1/2026), Nurul Azizah menemukan banyak titik lubang menganga dan kondisi aspal yang terkelupas parah. Kerusakan infrastruktur ini selama ini dikeluhkan oleh masyarakat karena sering menjadi pemicu kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor.
“Memang ada banyak titik berlubang yang perlu segera ditangani. Ini berbahaya dan berpotensi menyebabkan kecelakaan,” ujar Nurul Azizah, Senin (26/1/2026).
Guna mempercepat penanganan, Nurul Azizah langsung melakukan koordinasi melalui sambungan telepon dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pemerintah Provinsi Jawa Timur di lokasi sidak. Ia mendesak agar segera dilakukan perbaikan mengingat status jalan tersebut merupakan akses nasional yang sangat vital bagi mobilitas warga.
Pihak PPK Provinsi Jawa Timur memberikan respons positif dan berkomitmen untuk segera menerjunkan tim teknis ke lapangan. Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, proses perbaikan jalan di jalur utama Baureno dijadwalkan akan mulai dikerjakan pada Selasa (27/1/2026).
Kondisi jalan di wilayah ini memang menjadi perhatian serius pihak kepolisian karena angka fatalitas kecelakaan yang sangat tinggi. Kanit Gakkum Satlantas Polres Bojonegoro, Ipda Septian Nur Pratama, mengungkapkan bahwa ruas Bojonegoro–Babat merupakan salah satu titik paling rawan.
Data Satlantas Polres Bojonegoro menunjukkan dalam setahun terakhir telah terjadi sebanyak 990 kejadian kecelakaan di jalur maut tersebut. Dari total insiden yang tercatat, jumlah korban jiwa yang meninggal dunia mencapai angka yang mengkhawatirkan yakni 182 orang.
“Tingginya angka kecelakaan ini tidak lepas dari faktor kondisi jalan, salah satunya adanya lubang yang membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara roda dua,” ungkap Ipda Septian Nur Pratama. [lus/beq]






