Surabaya (beritajatim.com) – Menanggapi peringatan BMKG terkait potensi cuaca ekstrem selama 10 hari ke depan, BPBD Jawa Timur kini memfokuskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan selatan Jatim. Langkah ini diambil menyusul adanya kenaikan potensi hujan sebesar 58 persen di bulan Januari.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa wilayah selatan menjadi sasaran utama OMC hingga akhir pekan ini karena arah angin yang cenderung menuju ke selatan.
“Sesuai arahan Ibu Gubernur, OMC telah kami lakukan sejak 5 Desember 2025 dan direncanakan berakhir pada 31 Januari 2026. Program ini efektif menurunkan intensitas hujan sebesar 20 hingga 30 persen, mengubah potensi hujan lebat menjadi sedang atau ringan,” ujar Gatot kepada wartawan di kantornya, Kamis (22/1/2026).
Gatot memaparkan, saat ini banjir telah merendam lima kecamatan di Lamongan akibat luapan Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Jero. Selain itu, banjir juga menggenangi sejumlah titik di Sidoarjo yang memiliki topografi rendah.
“Di Situbondo, banjir di kawasan Pasir Putih akibat curah hujan tinggi sudah mulai surut. Luapan sungai juga terpantau di Pasuruan, Mojokerto, dan Jombang,” tambahnya.
Sementara itu, di Pamekasan, longsor menyebabkan 14 keluarga mengungsi. BPBD tengah mengevaluasi kelayakan tanah di lokasi tersebut.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD Jatim telah menyiagakan alat di wilayah risiko tinggi, mengaktifkan pompa air, serta berkolaborasi dengan TNI, Polri, dan relawan untuk normalisasi sungai. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, menghindari berteduh di bawah pohon rindang, dan selalu siap siaga menghadapi risiko bencana. [tok/beq]






