Situbondo (beritajatim.com) – Sebanyak 3.015 rumah warga di lima kecamatan Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, terendam banjir bandang akibat cuaca ekstrem pada Rabu (21/1/2026) malam. Bencana hidrometeorologi ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah setempat sejak sore hari.
Peristiwa ini melanda permukiman penduduk mulai pukul 17.30 WIB dan memaksa ribuan warga mengamankan barang berharga mereka. Pihak berwenang melaporkan bahwa banjir terjadi secara cepat sehingga banyak warga yang terkejut dengan debit air yang masuk ke dalam rumah.
Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Situbondo, Puriyono, mengonfirmasi lima kecamatan terdampak yakni Besuki, Banyuglugur, Mlandingan, Bungatan, dan Kendit. Petugas di lapangan masih terus melakukan pendataan mendalam terkait total kerugian yang dialami masyarakat terdampak.
“Berdasarkan data awal sementara yang kami himpun, total rumah warga terdampak banjir bandang mencapai 3.015 rumah,” ujar Puriyono, Kamis (22/1/2026). Jumlah rumah yang tergenang diperkirakan masih bisa bertambah seiring proses verifikasi data di lapangan yang terus berjalan.
Kecamatan Besuki menjadi wilayah dengan kerusakan dan dampak paling parah dibandingkan empat kecamatan lainnya. Di Desa Pesisir saja, tercatat sebanyak 2.822 unit rumah terendam air dengan ketinggian yang bervariasi.
Ribuan rumah yang terendam di Desa Pesisir tersebut tersebar di sejumlah dusun produktif. Wilayah yang terdampak meliputi Dusun Gudang, Krajan, Lesanan Kidul, Lesanan Lor, Mandaran, hingga Dusun Petukangan.
Selain Desa Pesisir, banjir bandang juga dilaporkan merendam permukiman padat penduduk di Desa Kalimas, Desa Demung, dan wilayah Besuki kota. Sementara di Kecamatan Banyuglugur, terjangan air berdampak signifikan pada Desa Kalianget dan Desa Lubawang.
Laporan dari Kecamatan Mlandingan menyebutkan bahwa genangan air cukup tinggi merendam hunian warga di wilayah Desa Selomukti. Di saat yang sama, Kecamatan Bungatan dan Kecamatan Kendit juga melaporkan ratusan rumah warga yang terdampak luapan air sungai.
Meskipun dampak material sangat luas, otoritas setempat memastikan tidak ada laporan mengenai korban luka maupun meninggal dunia. Seluruh warga yang berada di titik rawan berhasil menyelamatkan diri sebelum debit air mencapai titik tertinggi.
“Untuk korban jiwa nihil. Tidak ada laporan warga meninggal, luka-luka, maupun hilang. Namun kerugian material masih dalam proses pendataan lanjutan,” jelas Puriyono secara rinci.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Situbondo bersama Pusdalops telah dikerahkan ke lokasi sejak menerima laporan melalui Posko Siaga Bencana. Petugas fokus melakukan peninjauan lokasi serta koordinasi lintas sektor untuk mendistribusikan bantuan darurat dan melakukan kaji cepat dampak bencana.
BPBD Situbondo terus melakukan pemantauan intensif mengingat kondisi cuaca di wilayah Jawa Timur bagian timur masih belum stabil. Masyarakat diminta untuk segera mengungsi jika melihat tanda-tanda peningkatan debit air sungai secara signifikan di wilayah masing-masing.
“Kami juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada, karena potensi cuaca ekstrem dengan hujan intensitas tinggi dan angin kencang masih berpeluang terjadi,” tegas Puriyono. [awi/beq]






