Blitar (beritajatim.com) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Blitar terus membuktikan bahwa tembok penjara bukanlah penghalang bagi para penghuninya untuk tetap produktif. Melalui program unggulan baru, para narapidana kini beralih profesi menjadi tenaga terampil pembuat tempe berkualitas tinggi sebagai bekal kemandirian ekonomi.
Program produksi tempe berbahan kedelai pilihan ini dipilih karena memiliki proses pengolahan yang menuntut ketelitian tinggi. Kedisiplinan dalam setiap tahapan produksi diharapkan menjadi karakter baru yang tertanam kuat dalam diri para warga binaan selama menjalani masa hukuman.
“Program ini menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan sekaligus memperluas keterampilan produktif warga binaan,” ungkap Kepala Lapas Blitar, Romi Novitrion, Kamis (22/01/2026).
Dalam pelaksanaannya, warga binaan tidak sekadar melakukan pekerjaan kasar, melainkan dibekali pengetahuan teknis yang sangat komprehensif. Pelatihan mencakup seleksi bahan baku, standar proses higienis, sains fermentasi, hingga manajemen produksi yang profesional.

Langkah strategis ini diambil agar saat mereka kembali ke masyarakat nanti, para warga binaan telah mengantongi keahlian spesifik yang siap diaplikasikan. Keahlian ini diharapkan mampu mendorong mereka menjadi pelaku UMKM baru atau tenaga kerja siap pakai di industri pangan.
“Ini adalah siklus kemandirian yang ideal. Warga binaan yang memproduksi, hasilnya dinikmati bersama untuk kecukupan gizi, dan keterampilannya menjadi modal hidup mereka nanti,” imbuh Romi.
Menariknya, hasil produksi tempe segar karya warga binaan ini langsung didistribusikan ke dapur Lapas untuk memenuhi standar gizi harian seluruh penghuni. Hal ini memastikan kualitas bahan makanan yang dikonsumsi lebih terkontrol karena diproduksi secara mandiri di lokasi.
Secara ekonomi, inisiatif ini membantu efisiensi anggaran ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan secara signifikan. Dengan tangan-tangan yang kini terbiasa mengolah kedelai, Lapas Blitar optimistis mampu mencetak lulusan yang tidak hanya bebas secara hukum, tetapi juga berdaya di tengah masyarakat. [owi/beq]






