Madiun (beritajatim.com) — Musim panen durian di lereng Pegunungan Wilis bukan sekadar agenda tahunan bagi warga Desa Segulung, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Lebih dari itu, ia menjelma menjadi denyut ekonomi, magnet wisata, sekaligus penanda perubahan cara petani lokal membaca arah pasar.
Saat musim tiba, aroma durian matang menyambut setiap pengunjung yang datang. Di sepanjang kawasan Segulung, lapak-lapak durian berjejer, menawarkan beragam jenis, mulai durian lokal khas lereng Wilis hingga varietas premium seperti Musang King, Montong, Bawor, Kani, Matahari, sampai Duri Hitam. Tak heran jika kawasan ini dikenal sebagai Wisata Durian Dagangan, destinasi musiman yang selalu ramai diburu pencinta “raja buah”.
Pengunjung datang bukan hanya dari wilayah Madiun Raya, tetapi juga dari luar daerah. Anggun Annisa Putri, pengunjung asal Jombang, mengaku sengaja menyempatkan waktu datang ke Segulung demi menikmati durian favoritnya.
“Sengaja cari durian ke sini karena pilihannya lengkap dan harganya masih terjangkau. Ada durian lokal sampai Musang King dan Montong premium. Rasanya juga bermacam-macam, dari manis sampai kuning pahit,” ujarnya.

Menurut Anggun, keterbatasan pilihan durian di daerah asal membuat Dagangan selalu menjadi tujuan langganannya. “Kalau di daerah bawah pilihannya terbatas, tapi kalau di sini lengkap. Saya sudah langganan,” tambahnya.
Ratusan hingga Ribuan Buah Terjual Setiap Hari
Berkah musim panen dirasakan langsung oleh para penjual durian. Winanto, petani sekaligus pedagang durian di Dusun Segulung, menyebut saat puncak musim raya, stok durian yang ditampungnya bisa mencapai 500 hingga 1.000 buah per hari.
“Kalau pas musim raya, stok sehari bisa kisaran 500 sampai 1.000 biji. Itu hasil kumpulan dari petani-petani sekitar yang kami tampung di sini,” ujar Winanto, yang telah menekuni usaha jual beli durian sejak tahun 2000.
Durian-durian tersebut dijual langsung kepada konsumen yang datang dari berbagai daerah. Menurutnya, pola penjualan langsung ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring naiknya popularitas Wisata Durian Dagangan.
Jenis durian yang dijual pun sangat beragam. Selain ratusan varian durian lokal khas Segulung, tersedia pula durian premium. Salah satu yang menjadi kebanggaan adalah durian Kawuk (Kawok) asli Segulung yang telah mengantongi sertifikat dari Kementerian Pertanian.

Durian Kawuk dikenal memiliki cita rasa manis legit dengan sensasi pahit ringan (bittersweet), daging buah tebal, padat, creamy, serta tidak berserat. Secara fisik, buahnya montok dengan kulit relatif tipis.
“Kalau dari fisik, durian premium umumnya ukurannya lebih besar, kecuali Musang King dan Duri Hitam yang cenderung lebih kecil. Tapi dari rasa dan warna dagingnya punya ciri khas masing-masing,” jelas Winanto.
Menariknya, meski durian premium terus naik daun, durian lokal justru masih menjadi primadona. “Peminat durian lokal lebih banyak. Selain harganya lebih terjangkau, rasanya juga khas. Rata-rata pembeli mencari yang manis tapi ada pahitnya,” katanya.
Harga durian lokal dibanderol mulai Rp25 ribu hingga Rp150 ribu per buah, tergantung ukuran. Dalam sehari, Winanto mengaku mampu menjual sekitar 500 hingga 700 buah, terutama pada puncak musim yang biasanya berlangsung Januari hingga awal Februari.
Selain menjual buah segar, Desa Segulung kini juga mulai mengembangkan produk olahan berbahan dasar durian, seperti bolen durian, kemplang durian, stik durian, hingga aneka dessert durian yang kian diminati konsumen.
Dari Kebun Lokal ke Strategi Top Working
Di balik ramainya lapak durian, perubahan besar juga terjadi di tingkat kebun. Meningkatnya permintaan durian premium mendorong petani lokal beradaptasi. Salah satunya dilakukan Mariakun, petani durian Desa Segulung, dengan menerapkan sistem top working.
Teknik ini dilakukan dengan menyambungkan varietas durian bernilai ekonomi tinggi, seperti Musang King atau Monthong, pada pohon durian lokal yang telah berusia tua.
“Setiap tahun yang naik justru durian premium. Durian lokal sekarang banyak yang di-top working supaya kualitasnya ikut naik dan nilai jualnya lebih bagus,” ujar Mariakun, Rabu (14/1/2026).
Metode top working dinilai lebih efisien dibanding menanam dari bibit baru. Selain menghemat waktu, pohon lama memiliki perakaran yang sudah kuat sehingga lebih cepat beradaptasi dan produktif.
Namun, keberhasilan top working tidak hanya bergantung pada teknik sambung. Perawatan dan pemupukan menjadi kunci utama. Pada fase vegetatif digunakan pupuk NPK untuk mendukung pertumbuhan batang dan daun. Memasuki fase pembungaan, komposisi fosfor dan kalium diperbanyak untuk mencegah kerontokan daun dan merangsang bunga.

“Kalau sudah masuk pembesaran buah, ada tiga jenis pupuk yang digunakan. Salah satunya KCL. Itu penting untuk meningkatkan aroma, rasa, dan kualitas buah durian,” jelasnya.
Perbedaan hasilnya cukup signifikan. Durian lokal yang ditanam dari awal membutuhkan waktu hingga 15 tahun untuk berbuah. Sementara durian premium hasil top working bisa mulai dipanen sekitar lima tahun.
“Sekarang petani tidak bisa hanya mengandalkan durian lokal. Pasar sudah berubah, jadi kita juga harus ikut berubah,” kata Mariakun.
Ribuan Hektare Durian, Segulung Disiapkan Jadi Agrowisata
Data Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun menunjukkan komoditas durian terus mengalami tren positif. Pada 2025, luas tanam durian di Kabupaten Madiun tercatat mencapai 1.294,55 hektare dengan luas panen 638,16 hektare dan total produksi 9.248,04 ton.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun, Raswiyanto, menyebut peningkatan terjadi hampir setiap tahun seiring meningkatnya minat petani mengembangkan durian sebagai komoditas unggulan hortikultura.
Kecamatan Dagangan menjadi salah satu penyumbang produksi terbesar dengan luas tanam 343,33 hektare dan produksi mencapai 4.122,10 ton. Sentra lain tersebar di Kecamatan Dolopo, Kare, Gemarang, hingga wilayah dengan luasan lebih kecil seperti Wungu, Saradan, dan Balerejo.
Salah satu varietas unggulan khas Madiun adalah Durian Kawuk Raja dari Desa Segulung yang telah resmi terdaftar di Kementerian Pertanian sebagai upaya perlindungan varietas lokal.
“Pendaftaran ini penting sebagai pengakuan resmi bahwa Kawuk Raja merupakan durian asli Kabupaten Madiun,” ujar Raswiyanto.
Ke depan, Pemkab Madiun berencana mengembangkan kawasan penghasil durian di wilayah madiun sebagai agrowisata durian, sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM berbasis olahan durian.
Dari kebun rakyat hingga lapak wisata, dari durian lokal hingga pasar premium, Segulung kini tak sekadar menjadi tujuan berburu durian. Ia menjadi contoh bagaimana potensi lokal, inovasi petani, dan dukungan kebijakan dapat berpadu membuka jalan kesejahteraan di lereng pegunungan. (rbr/but)






