Mojokerto (beritajatim.com) – Selain padi, komoditas palawija masih menjadi andalan sektor pertanian di Kabupaten Mojokerto. Sepanjang tahun 2024, jagung tercatat sebagai komoditas palawija dengan produksi tertinggi dibandingkan komoditas lainnya seperti ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah, dan kedelai.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny menjelaskan bahwa jagung banyak diusahakan masyarakat Kabupaten Mojokerto karena memiliki pangsa pasar yang luas. Baik untuk kebutuhan industri pengolahan makanan maupun pakan ternak.
“Jagung tidak hanya dipasarkan untuk industri pengolahan makanan dan pakan ternak, tetapi di sebagian masyarakat juga masih dikonsumsi sebagai makanan pokok maupun dicampur dengan beras. Jagung muda bahkan dimanfaatkan sebagai sayur atau kudapan seperti jagung bakar,” ungkapnya, Selasa (20/1/2026).
Berdasarkan data BPS Kabupaten Mojokerto, produksi jagung tertinggi selama tahun 2024 terjadi pada Sub Round III (September–Desember) dengan capaian 154.206,12 ton. Sementara produksi terendah berada pada Sub Round II (Mei–Agustus) sebesar 72.556,99 ton.
Selain jagung, komoditas palawija dengan produksi tertinggi kedua adalah ubi jalar, disusul ubi kayu di urutan ketiga, serta kacang tanah dan kedelai masing-masing di posisi keempat dan kelima. Produksi ubi jalar di Kabupaten Mojokerto menunjukkan tren peningkatan sepanjang tahun 2024.
Pada Sub Round I (Januari–April), produksi tercatat sebesar 9.276,13 ton, kemudian meningkat menjadi 12.704,39 ton pada Sub Round II, dan melonjak cukup signifikan pada Sub Round III menjadi 34.056,24 ton. Menurutnya, tingginya produksi ubi jalar tersebut tidak lepas dari faktor musim hujan yang memberikan curah hujan cukup dan merata.
“Kondisi iklim yang mendukung perlu diimbangi dengan strategi pengelolaan lahan, seperti pemilihan varietas tahan genangan, penggunaan bedengan tinggi, serta sistem irigasi yang baik agar hasil panen bisa optimal,” jelasnya.
Produksi ubi jalar dan ubi kayu dicatat dalam bentuk ubi basah. Ubi jalar umumnya dikonsumsi masyarakat sebagai kudapan rebusan, namun juga banyak diolah menjadi aneka makanan seperti bolu, brownies, dan kue kukus yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Berbeda dengan ubi jalar, produksi ubi kayu tertinggi justru terjadi pada Sub Round II (Mei–Agustus 2024) sebesar 5.669,04 ton, kemudian turun cukup tajam pada Sub Round III menjadi 2.214,55 ton. Sementara itu, produksi kacang tanah sepanjang tahun 2024 rata-rata mencapai 304,33 ton per Sub Round dengan produksi tertinggi pada Sub Round III sebesar 615,15 ton.
Adapun produksi kedelai menunjukkan peningkatan signifikan pada akhir tahun, dari 26,28 ton di Sub Round I dan 23,97 ton di Sub Round II, menjadi 1.541,35 ton pada Sub Round III. Jika dibandingkan antar tahun, produksi jagung pada 2024 mengalami kenaikan dibandingkan 2023, meski masih lebih rendah dibandingkan 2022.
“Produksi jagung tahun 2022 tercatat paling tinggi sebesar 291.497 ton, kemudian menurun menjadi 258.151 ton di tahun 2023, dan kembali naik menjadi 271.776 ton pada tahun 2024 seiring dengan meningkatnya luas panen,” terangnya.
Namun demikian, dari lima komoditas palawija utama tersebut, hanya jagung yang mengalami peningkatan produksi dibandingkan tahun sebelumnya. Komoditas lain seperti kedelai, kacang tanah, ubi kayu, dan ubi jalar tercatat mengalami penurunan produksi secara konsisten dalam periode 2022–2024.
“Produksi kedelai, misalnya, pada tahun 2022 sebesar 1.764 ton, naik tipis menjadi 1.767 ton di 2023, namun kembali turun menjadi 1.592 ton pada 2024,” pungkasnya. [tin/ted]






