Jakarta (beritajatim.com) – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan maksimal bagi jemaah haji perempuan pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M. Komitmen tersebut tercermin dari meningkatnya proporsi petugas haji perempuan yang kini mencapai 33,2 persen.
Pernyataan itu disampaikan Dahnil Anzar di sela kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (Diklat PPIH) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Menurutnya, capaian tersebut bahkan melampaui target awal Kementerian Haji dan Umrah yang menetapkan kuota petugas perempuan sebesar 30 persen.
Dahnil menjelaskan, peningkatan jumlah petugas perempuan merupakan kebijakan langsung Menteri Haji dan Umrah sebagai bentuk afirmasi. Kebijakan ini mempertimbangkan fakta bahwa mayoritas jemaah haji Indonesia adalah perempuan, sehingga membutuhkan pendampingan yang lebih sesuai dari sisi pendekatan dan kenyamanan.
“Banyak keluhan dari para ibu-ibu terkait kebutuhan pembimbing perempuan. Jemaah hajah akan jauh lebih nyaman ketika berkomunikasi dan berkonsultasi mengenai ibadah dengan sesama perempuan. Pendekatannya bisa lebih personal,” ujar Dahnil.
Menurutnya, kehadiran petugas perempuan tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga berperan penting dalam membangun hubungan emosional dengan jemaah. Hal ini menjadi krusial terutama bagi jemaah perempuan lanjut usia yang membutuhkan perhatian, empati, dan pendampingan lebih intensif selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Kami ingin keluarga yang ditinggalkan di tanah air merasa tenang dan aman. Jemaah, apalagi yang lansia, berada di tangan petugas yang memiliki empati tinggi. Seperti kita menjaga ibu dan bapak kita sendiri,” tambahnya.
Selain aspek perlindungan dan pendampingan, Dahnil juga menyoroti pentingnya kesiapan fisik bagi petugas maupun jemaah perempuan. Ia mendorong agar kesehatan dan kebugaran menjadi bagian dari habitus atau kebiasaan hidup setiap muslim.
“Haji itu ibadah puncak dalam berislam. Muslim dan muslimah harus kuat dan sehat. Negara yang kuat diisi oleh penduduk yang kuat, dan itu dimulai dari membangun habitus hidup sehat sejak masa persiapan haji ini,” tegas Dahnil.
Peningkatan proporsi petugas perempuan yang dibarengi dengan pelatihan fisik, teknis, dan spiritual tersebut diharapkan mampu memperkuat kualitas pelayanan haji, khususnya bagi jemaah perempuan, pada penyelenggaraan haji 2026. [ian/beq]






