Jakarta (beritajatim.com)- Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia resmi menetapkan protokol mitigasi dokumen Nusuk dan percepatan ekosistem ekonomi haji 1447 H/2026 M melalui skema cetak ulang kartu hilang dalam waktu 1×24 jam. Langkah strategis ini dilakukan untuk memberikan perlindungan dokumen perjalanan jemaah sekaligus memaksimalkan potensi ekspor produk lokal Indonesia, mulai dari bumbu dapur hingga beras, ke pasar Arab Saudi.
Sekretaris Direktorat Jenderal Kemenhaj, Dr. Abdul Haris, menegaskan bahwa koordinasi intensif dengan penyedia layanan atau syarikah di Arab Saudi telah menghasilkan kesepakatan pengamanan dokumen yang ketat. Kartu Nusuk akan dicetak paling lambat satu minggu setelah visa jemaah terbit untuk segera dikirim ke tanah air, sehingga jemaah sudah memegangnya sebelum keberangkatan.
“Jemaah yang kehilangan kartu dapat melapor melalui koordinasi petugas untuk diteruskan ke PIC syarikah. Proses cetak ulang kartu pengganti dijanjikan selesai dalam waktu 1 x 24 jam,” ujar Dr. Abdul Haris saat memaparkan materi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Estimasi penggantian kartu ini diatur secara presisi agar jemaah tidak terhambat saat akan melaksanakan ibadah umrah. Mengingat total waktu perjalanan dan proses di bandara mencapai sekitar 11 jam, kartu pengganti diharapkan sudah terbit tepat saat jemaah bersiap memulai rangkaian ibadah di tanah suci.
Selain aspek dokumen, Kemenhaj tahun ini fokus memacu volume ekspor kebutuhan jemaah untuk memperkuat ekonomi nasional. Pemerintah berupaya melampaui capaian 700 ton bumbu pada musim sebelumnya dan tengah berikhtiar melakukan pengiriman beras asli Indonesia guna memenuhi kebutuhan katering jemaah di Makkah dan Madinah.
Optimalisasi jalur logistik juga dilakukan dengan menjajaki pemanfaatan empty flight atau penerbangan pulang yang kosong dari maskapai Garuda Indonesia. Skema ini diharapkan mampu memberikan keringanan biaya kargo bagi produk-produk Indonesia serta mendukung kelancaran pengiriman barang jemaah melalui kerja sama dengan PT Pos Indonesia.
Inovasi lain yang diperkenalkan adalah penyediaan oleh-oleh haji melalui UMKM lokal di setiap embarkasi, termasuk embarkasi besar di Jawa Timur. Sistem ini memungkinkan jemaah memesan barang sejak di tanah air dan mengambilnya saat kembali ke Indonesia, sehingga beban bagasi jemaah selama penerbangan tetap terjaga sesuai kapasitas.
“Kita fasilitasi UMKM Indonesia untuk membuka konter di embarkasi. Jemaah bisa melihat dan memesan barang yang ada di Arab Saudi, bahkan sebagian adalah produk Indonesia,” kata Dr. Abdul Haris menjelaskan solusi praktis bagi jemaah yang ingin membawa buah tangan tanpa repot di perjalanan.
Guna memastikan seluruh program ini berjalan lancar di lapangan, Dr. Abdul Haris mengingatkan pentingnya peran Ketua Regu sebagai garda terdepan. Kedisiplinan jemaah dan kecepatan pelaporan masalah dokumen sangat bergantung pada koordinasi tim kecil yang solid demi mewujudkan penyelenggaraan haji 2026 yang lebih tertib dan kompetitif secara ekonomi. [ian/aje]






