Bondowoso (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Bondowoso mulai membangun jembatan darurat di Desa Wonoboyo menyusul robohnya jembatan penghubung yang selama setahun terakhir mengganggu akses warga menuju Kecamatan Klabang, Kamis, 15 Januari 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kalaksa BPBD Bondowoso, Kristianto, mengatakan progres pembangunan jembatan darurat sudah dimulai sejak hari ini dengan penurunan material ke lokasi serta pembersihan area terdampak.
“Hari ini sudah mulai dropping material, sekaligus pembersihan lokasi dan koordinasi dengan masyarakat Wonoboyo. Kami juga melakukan sosialisasi karena selama proses pembangunan kemungkinan aktivitas warga akan sedikit terganggu,” kata Kristianto, Kamis siang.

Ia menargetkan pembangunan jembatan darurat tersebut dapat selesai dalam waktu dua hingga tiga pekan. “Kami harapkan selesai sekitar dua minggu sampai 20 hari. Jembatan ini dirancang bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, dan Bina Konstruksi (BSBK) Bondowoso, Ansori, menjelaskan bahwa penanganan jembatan ini dilakukan secara lintas organisasi perangkat daerah (OPD) karena statusnya masih dalam kondisi tanggap darurat.
“Kami sudah melakukan survei ke lokasi kemarin. Karena ini tanggap darurat, penanganannya lintas OPD dan menggunakan anggaran BTT (Biaya tak terduga). BSBK bertugas pada pembangunan jembatannya,” ujar Ansori.
Ia menambahkan, pengiriman material dilakukan secara bertahap mulai hari ini. “Diharapkan pembangunan jembatan ini dapat segera mempermudah akses warga yang selama ini terganggu akibat bencana,” tambahnya.
Sebelumnya, warga Desa Wonoboyo, Muhammad Idrus, mengungkapkan bahwa jembatan lama roboh akibat banjir dan longsor yang terjadi secara beruntun. Kondisi tersebut diperparah karena usia jembatan yang sudah tua dan kerap dilalui kendaraan berat.
“Jembatan itu dulu dibangun sekitar 20 tahun lalu oleh PU. Tahun lalu kena banjir, sekarang diperparah longsor. Tadi sore ambrol lagi karena sudah lama dan dilewati alat berat proyek,” ungkap Idrus.
Akibat robohnya jembatan, warga terpaksa memutar jauh jika hendak menuju Kecamatan Klabang. “Kalau jalur biasa cuma 30 menit, sekarang harus mutar lewat Situbondo sampai dua jam,” katanya.
Ia menuturkan dampak paling serius dirasakan pada layanan kesehatan dan perekonomian warga. “Kalau ada pasien kritis, ambulans tidak bisa lewat. Harus mutar lewat Kendit, Situbondo. Begitu juga warga yang mau periksa ke Bondowoso,” ujarnya.
Selain itu, aktivitas ekonomi juga terganggu. “Hasil tani, pedagang sapi mau ke pasar hewan Selasa-an di Bondowoso juga harus mutar jauh. Biaya dan waktu jadi membengkak,” jelasnya. (awi/but)






