Jombang (beritajatim.com) – Banjir yang melanda hamparan sawah di Dusun Ketapangrejo, Desa Ketapangkuning, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, menciptakan fenomena tak terduga selama empat hari terakhir.
Air yang menggenangi sekitar 17 hektar lahan pertanian ini, meskipun berpotensi menyebabkan gagal panen bagi petani, justru menjadi magnet bagi warga sekitar. Pemandangan yang tidak biasa ini menarik perhatian pengunjung, memunculkan suasana yang tak terduga: wisata dadakan di tengah banjir.
Air yang membanjiri lahan pertanian tersebut menyerupai danau sementara. Permukaan air yang bergelombang tertiup angin, berpadu dengan cahaya senja yang memesona, menciptakan pemandangan yang menenangkan. Momen ini menarik perhatian warga untuk datang dan menikmati suasana senja yang tak biasa di atas genangan air.
Pada Rabu (14/1/2026) sore, ratusan warga berbondong-bondong datang ke lokasi tersebut. Mereka tidak hanya datang dengan keluarga atau sahabat, tetapi juga pasangan muda yang ingin menikmati momen langka ini. Para pengunjung memanfaatkan waktu untuk bersantai, berfoto, bahkan menikmati suasana senja dengan latar belakang danau dadakan yang terbentuk dari genangan air.
Salah satu warga, Bianca Nisha Aurelia (15), mengungkapkan kegembiraannya. “Cuma lihat banjir saja, tapi seru. Airnya kayak danau ada gelombang-gelombangnya, terus bisa nikmati sunset,” katanya sambil tersenyum.
Menurutnya, suasana di lokasi terasa sejuk dan menenangkan. “Syahdu, anginnya sepoi-sepoi. Gratis juga, banyak jajan-jajan. Yang paling saya suka ya suasananya,” tambahnya.
Bianca bahkan berfantasi untuk membuat perahu dan menyewakannya jika fenomena wisata dadakan ini terus berlanjut. “Saya saja mau buat perahu. Nanti saya sewakan 10 menit Rp150 ribu saja, seru banget itu kayaknya,” ujarnya bersemangat.
Berkat keunikan fenomena ini, tak sedikit pengunjung yang datang berkat viralnya video lokasi tersebut di media sosial. Salah satu pengunjung, Mohammad Ilham (25), mengaku datang setelah melihat video yang menunjukkan keindahan danau dadakan tersebut.
“Ini wisata dadakan. Kejadiannya mungkin setahun cuma satu atau dua kali. Videonya sempat viral, yang merekam suasana dari atas menggunakan drone, akhirnya saya penasaran dan tertarik untuk datang ke sini,” ujarnya.
Daya tarik utama lokasi ini, menurut Ilham, adalah kombinasi antara air banjir yang bergelombang dengan pemandangan senja yang memikat. “Sore hari kita bukan cuma lihat air, tapi juga senjanya bagus. Gratis juga, bisa sambil ngopi senja,” katanya.
Namun, di balik keramaian ini, ada pihak yang merasa terbebani, yakni para petani yang lahan pertaniannya terendam banjir. Namun, keramaian wisata dadakan ini sedikit memberi berkah bagi pedagang kecil di sekitar lokasi.
Atim (45), penjual pentol bakar asal Desa Keboan, mengungkapkan pengalaman pertama kalinya merasakan dampak keramaian ini. “Kalau dampaknya, petani jelas merasa merugi. Tapi masyarakat banyak yang senang karena ada wisata dadakan,” katanya.

Atim mengaku penjualannya meningkat, meski tidak menentu, berkat banyaknya pengunjung. “Alhamdulillah banyak yang beli. Kita coba membaca peluang karena pengunjungnya ramai banget,” tuturnya.
Meskipun demikian, Atim berharap pemerintah turun tangan dalam menangani masalah banjir yang merugikan petani. “Harapannya pemerintah bisa meninjau langsung soal banjirnya ini karena kasihan juga petaninya,” tutup Atim. [suf]






