Washington – Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan Selasa, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Sentimen pasar kian tertekan setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran, melontarkan ancaman opsi militer, serta mengumumkan kebijakan tarif tinggi terhadap negara-negara yang masih menjalin bisnis dengan Teheran.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik hampir 2 dolar AS menjadi 61,46 dolar AS per barel pada perdagangan siang hari. Sementara itu, minyak mentah Brent menguat ke level 65,86 dolar AS per barel, tertinggi sejak pertengahan November.
Reli harga minyak ini memperpanjang tren penguatan dalam beberapa hari terakhir, dipicu kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan dari Iran yang merupakan salah satu produsen utama minyak di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Ketegangan diplomatik memuncak setelah Trump menyampaikan pernyataan keras melalui platform Truth Social. Ia menegaskan penghentian seluruh komunikasi resmi dengan Iran sebagai respons atas tindakan keras pemerintah setempat terhadap demonstran.
“Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan Pejabat Iran sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal BERHENTI,” tulis Trump.
Dalam unggahan terpisah, Trump juga menyerukan aksi protes lanjutan di Iran dan memperingatkan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan tersebut.
“PROTES – CATAT NAMA-NAMANYA,” tegasnya, seraya menyatakan bahwa para pelaku “akan membayar harga yang mahal.”
Opsi Militer hingga Dukungan Teknologi
Sejumlah pejabat AS mengungkapkan bahwa Trump dijadwalkan menggelar pertemuan dengan penasihat keamanan nasional senior untuk menimbang berbagai opsi terhadap Iran. Langkah yang dibahas mencakup kemungkinan serangan militer terbatas terhadap pasukan keamanan rezim, serangan siber untuk mengganggu sistem komunikasi, perluasan sanksi ekonomi, serta pemberian dukungan daring kepada demonstran melalui layanan internet satelit seperti Starlink.
Langkah-langkah tersebut dinilai dapat memperbesar risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dan berpotensi menekan stabilitas pasokan energi global.
Tarif 25 Persen untuk Mitra Bisnis Iran
Selain ancaman militer, Trump juga mengumumkan kebijakan ekonomi keras dengan memberlakukan tarif tambahan sebesar 25 persen kepada negara mana pun yang tetap melakukan bisnis dengan Iran. Kebijakan tersebut berlaku segera dan tanpa pengecualian.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut keputusan itu bersifat mutlak dan tidak membuka ruang kompromi.
“Effective immediately, any Country doing business with the Islamic Republic of Iran will pay a Tariff of 25% on any and all business being done with the United States of America. This Order is final and conclusive,” tulis Trump.
Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak akan disertai pengecualian, penerapan bertahap, maupun proses negosiasi, sehingga diperkirakan akan berdampak luas terhadap hubungan dagang global.
Analis menilai, kombinasi tekanan militer, sanksi ekonomi, dan kebijakan tarif ini berpotensi memperbesar volatilitas harga minyak dunia dalam jangka pendek. Investor global kini mencermati perkembangan lanjutan hubungan AS-Iran yang dinilai krusial bagi stabilitas pasar energi internasional. (berbagai sumber/ted)






