Mojokerto (beritajatim.com) – Upaya menciptakan lembaga pemasyarakatan yang bersih dari narkotika tidak hanya menyasar warga binaan. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto justru memulainya dari dalam, dengan memastikan seluruh pegawai menjadi teladan melalui tes urine tanpa pengecualian.
Langkah tersebut menjadi pesan kuat bahwa perang terhadap narkoba di lingkungan pemasyarakatan bukan sekadar slogan, melainkan komitmen bersama yang dimulai dari aparatur. Tes urine yang digelar di Aula Serbaguna Lapas Kelas IIB Mojokerto tersebuy diikuti seluruh pegawai serta sejumlah warga binaan yang dipilih secara acak.
Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Mojokerto, Rudi Kristiawan menegaskan bahwa keteladanan pegawai merupakan fondasi utama dalam membangun budaya kerja yang bersih dan berintegritas di dalam Lapas. “Kalau pegawainya bersih dan berani diawasi, maka warga binaan akan lebih mudah diarahkan. Ini bagian dari tanggung jawab moral kami,” ungkapnya, Kamis (8/1/2026).
Pengawasan internal tidak hanya berfungsi sebagai kontrol, tetapi juga sarana membangun kepercayaan antara petugas dan warga binaan. Dengan sistem yang transparan, ruang penyalahgunaan narkotika dapat ditekan sejak dini. Melalui tes urine berkala, Lapas Kelas IIB Mojokerto menegaskan komitmennya membangun sistem pemasyarakatan yang tidak hanya tegas, tetapi juga berintegritas dan humanis.
Tes urine yang juga melibatkan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) secara acak. Sejumlah warga binaan menilai langkah tersebut menciptakan rasa keadilan dan mendorong mereka untuk fokus menjalani masa pembinaan. “Petugasnya juga ikut diperiksa, jadi kami merasa diperlakukan sama. Ini memotivasi kami untuk benar-benar menjauhi narkoba,” ujar salah satu WBP.
Lapas Kelas IIB Mojokerto menilai pendekatan keteladanan ini menjadi bagian penting dalam proses pembinaan. Lingkungan yang bersih dari narkoba diyakini mampu menciptakan suasana lapas yang lebih aman, tertib, dan kondusif bagi perubahan perilaku warga binaan. [tin/aje]






