Banyuwangi (beritajatim.com) – Kabupaten Banyuwangi berhasil menarik sebanyak 290.776 wisatawan selama periode libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 yang berlangsung sejak 22 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Angka kunjungan ke kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 50 ribu orang dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Peningkatan tren positif ini menempatkan Banyuwangi sebagai destinasi unggulan di saat wilayah tujuan wisata lain di Indonesia justru mengalami penurunan jumlah pengunjung. Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi, Taufik Rohman, mengonfirmasi capaian tersebut sebagai prestasi yang membanggakan bagi sektor pariwisata daerah.
“Capaian ini tergolong bagus. Karena kita melihat di daerah-daerah tujuan wisata lain, terjadi penurunan kunjungan selama Nataru,” kata Taufik Rohman saat memberikan keterangan resmi mengenai statistik kunjungan wisatawan.
Wisata alam tetap memegang kendali sebagai daya tarik utama yang mendominasi sekitar 95 persen dari total seluruh destinasi yang tersedia di Bumi Blambangan. Beberapa lokasi favorit yang paling banyak diserbu pelancong antara lain TWA Kawah Ijen, Pantai Marina Boom, Hutan de Djawatan, Pantai Pulau Merah, Banyuwangi Park, Bangsring Under Water, dan Pemandian Jopuro.
“Wisata alam memang akan selalu mendominasi karena destinasi di Banyuwangi mayoritas adalah destinasi alam. Sekitar 95 persen dari seluruh destinasi yang ada,” jelas Taufik.
Menariknya, lonjakan wisatawan tidak hanya berpusat pada titik-titik populer yang sudah lama dikenal. Destinasi wisata rintisan berbasis masyarakat atau ekowisata juga mulai mencuri perhatian, salah satunya adalah Ekowisata Gerbang Raung di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, yang dilaporkan padat pengunjung sepanjang momen liburan tersebut.
Melonjaknya jumlah pelancong ini membawa multiplier effect yang besar terhadap stabilitas ekonomi lokal. Sektor perhotelan, homestay, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), hingga jasa persewaan kendaraan dilaporkan mengalami peningkatan pendapatan yang drastis akibat tingginya permintaan pasar.
“Pelaku jasa wisata seperti hotel-homestay, usaha mikro kecil menengah (UMKM), persewaan kendaraan, dan berbagai sektor lain turut terangkat dengan melonjaknya jumlah kunjungan,” pungkas Taufik. [tar/ian]






